Kebakaran hutan yang melanda Inggris dan Eropa baru-baru ini mungkin terasa jauh bagi Jan Harris, seorang penyintas kebakaran di Australia.

Namun, saat melihat berita tersebut, perempuan 67 tahun itu meneteskan air mata. "Sungguh memilukan bagi mereka.

>>> Pesepakbola Ubah Persepsi Gaya Rambut Profesional di Panggung Dunia

Jalan yang berat sudah menanti," ujarnya.

Harris kehilangan rumahnya akibat kebakaran hutan pada Maret 2018. Suhu saat itu mencapai 38 derajat Celsius.

Meski telah membersihkan selokan dan menyiapkan tangki air, kobaran api datang terlalu cepat. Ia hanya sempat mengambil insulin putranya sebelum melarikan diri bersama suaminya.

Rumah mereka hancur total bersama 64 bangunan lain.

Dua tahun kemudian, saat menyewa di dekat sana, mereka mengungsi dua kali lagi selama kebakaran Black Summer yang menewaskan 33 orang dan menghancurkan lebih dari 3.000 rumah.

Pelajaran dari Garis Depan

Meskipun kebakaran semak adalah bagian kuno dari lanskap Australia, pengelolaan risiko membutuhkan kerja sama terstruktur antara otoritas dan warga.

Sistem publik seperti peringkat risiko kebakaran harian dan rencana kelangsungan hidup wajib membantu mengurangi bahaya di daerah rawan.

Ben Shepherd, superintendent di Fire and Rescue New South Wales, mengatakan Australia memiliki lahan paling rawan kebakaran di dunia.

"Kami selalu mendorong pandangan bahwa ini tentang tanggung jawab bersama. Masyarakat harus memahami risiko dan apa yang bisa mereka lakukan untuk menguranginya," jelasnya.

Pendekatan bersama ini melibatkan pengingat rutin kepada masyarakat untuk membersihkan puing-puing yang mudah terbakar dan menetapkan pemicu evakuasi rumah tangga yang jelas.

Tingkat keparahan musim kebakaran baru-baru ini juga mendorong kolaborasi internasional, dengan personel dan pesawat pemadam kebakaran Australia dikerahkan ke pantai barat AS.