Meskipun memiliki pertahanan fisik, Harris menekankan bahwa meninggalkan rumah lebih awal tetap menjadi pilihan teraman. "Saya akan tetap pergi.

Jika kami tinggal 10 menit lagi terakhir kali, kami tidak akan hidup," katanya.

Menghadapi dampak psikologis yang berat juga menjadi tantangan. Menerima dukungan dan mematuhi perintah evakuasi resmi adalah langkah penting untuk bertahan dari ancaman yang meningkat.

"Kita sering tidak cukup meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang terjadi. Ini menakutkan dan memilukan.

Secara finansial sulit bagi kami, tetapi kami bisa melewatinya, meskipun dengan biaya emosional yang besar," ujar Harris.

Mengutamakan keselamatan pribadi di atas properti tetap menjadi pelajaran inti dari pengalamannya. "Jika ada bantuan psikologis, saya akan mengatakan ambillah.

Orang bilang yang hilang hanyalah barang, dan itu benar – tapi itu barang saya.

Ketika otoritas meminta kita mengungsi, jika kita memilih tidak, apakah kita kemudian meminta mereka datang menyelamatkan kita? Itu permintaan yang sangat besar," katanya.

>>> INNOPROM 2026 Jadi Titik Balik, Indonesia-Azerbaijan Sepakat Percepat Kerja Sama Industri

Pada akhirnya, bertahan hidup membawa rasa syukur yang mendalam meskipun ada kerugian. "Meskipun saya berduka atas apa yang hilang, saya cukup bahagia bisa berada di sini," pungkas Harris.