Debit air Sungai Cisadane menyusut drastis dalam sebulan terakhir akibat musim kemarau. Kondisi ini membuat dasar sungai yang dipenuhi bebatuan terlihat jelas dan dimanfaatkan warga untuk memancing.

Pantauan di aliran setelah Bendung Pasar Baru atau Pintu Air 10, Kota Tangerang, Banten, Kamis (16/7), menunjukkan penurunan debit air karena minimnya pasokan dari hulu di Bogor serta rendahnya curah hujan.

>>> Bos Agrinas Sebut Kopdes Bisa Cuan Rp597 Juta Lewat Penyaluran Subsidi

Sejumlah warga turun ke dasar sungai untuk memancing, yang biasanya dilakukan dari bantaran.

Seorang pemancing, Gunawan, mengaku sudah memancing sejak pukul 08.00 WIB dan kondisi surut berlangsung sekitar sebulan.

"Sudah sekitar sebulan sejak hujan tidak turun. Pintu bendung juga jarang dibuka sehingga air surut.

Biasanya saya memancing dari atas, sekarang bisa turun langsung ke dasar sungai. Ikannya juga masih banyak," kata Gunawan.

Ketinggian air Sungai Cisadane menyusut sekitar 12 persen dari elevasi normal 12,45 meter.

Pada Kamis sore, tinggi muka air (TMA) di depan bendungan tercatat 11,95 meter, sedangkan di belakang bendungan hanya 5,50 meter.

Seluruh 10 pintu bendung saat ini tertutup untuk menjaga pasokan air baku bagi pengolahan air minum dan industri.

Namun, kebijakan itu berpotensi memengaruhi pasokan air untuk lahan pertanian di hilir.

Krisis Air di Tangerang Selatan

Surutnya Sungai Cisadane memicu krisis air di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Di Kampung Koceak, RW 02, sejumlah sumur warga mulai mengering sejak sebulan terakhir.

Warga terpaksa mencuci pakaian di Sungai Cisadane, sementara kebutuhan air bersih dipenuhi dari bantuan mobil tangki. "Sudah enggak ada air.