PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sempat mengalami tekanan likuiditas setelah Menteri Keuangan menarik dana penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan penarikan dana SAL bertepatan dengan kenaikan BI Rate dan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

>>> JETE Festive 2026: Kolaborasi Teknologi dan Komunitas Kreatif di Surabaya

"Kemarin kan agak sedikit masalah, karena BI rate naik, SRBI naik, likuiditas ketat, terus duit harus kembali.

Itu sebenarnya terjadi crossing, berebut akhirnya," kata Nixon di Menara BTN 2, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Ia menilai penarikan dana secara bersamaan dengan instrumen lain seperti SRBI dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) membuat perbankan berebut likuiditas di pasar.

Bank pun menaikkan suku bunga deposito untuk menarik dana masyarakat.

"Karena kalau semua bersamaan nyedot, udah pasti bank kalah. SRBI nyedot dan sebagainya, SBN juga keluar, bank pasti kalah, terus bank harus membalikkan duit juga," jelasnya.

>>> Bos INPEX: Proyek LNG Masela Sumbang US$137,7 Miliar ke RI

Nixon menambahkan persoalan tersebut telah dibahas bersama Kementerian Keuangan dan DPR. Menurutnya, situasi serupa dapat dihindari dengan koordinasi yang lebih baik, terutama terkait waktu penarikan dana pemerintah.

"Cuma ini kan udah berhasil diatasi, kita semua menghadap Menteri Keuangan, dipanggil DPR, udah kita jelasin bahwa situasi ini bisa dicegah kalau ada koordinasi yang baik, terutama timing penarikannya," ujarnya.

Nixon juga mengusulkan agar mekanisme penghimpunan dana oleh Badan Layanan Umum (BLU) lebih terkoordinasi agar tidak mendorong persaingan bunga deposito.

BTN menargetkan biaya dana (cost of fund/CoF) tetap terjaga hingga akhir tahun. Pada Semester I 2026, CoF BTN tercatat sebesar 3,01%.

>>> Bahlil: Pupuk Indonesia Bangun Pabrik di Saumlaki, Manfaatkan Gas Masela

"Soal cost of fund BTN akan menjaga di kisaran 3,1 sampai 3,33 (hingga akhir tahun)," tutup Nixon.