Serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat selama empat hari berturut-turut, meskipun ada upaya untuk merundingkan kesepakatan damai yang langgeng.

AS kembali memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting untuk minyak dan gas, di tengah meningkatnya ketegangan.

>>> Menkeu Purbaya Respons Dugaan Mark Up Rp5,5 T Pengadaan Pikap Kopdes

Presiden Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menyatakan bahwa serangan AS akan terus ditingkatkan hingga kesepakatan tercapai.

"Kami akan melumpuhkan semua pembangkit listrik mereka," kata Trump. "Kami akan melumpuhkan semua jembatan mereka kecuali mereka duduk di meja perundingan dan bernegosiasi."

Pernyataan ini menegaskan sikap agresif AS dalam konflik yang sedang berlangsung.

Serangan Terbaru dan Dampak Regional

Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa serangan terbaru bertujuan untuk "menurunkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang pelayaran komersial" di kawasan tersebut.

Blokade tersebut memicu reaksi keras dari Iran, yang membalas dengan menargetkan sekutu AS, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

>>> Polisi Tangkap Sutradara Film di Konawe Diduga Cabuli Anak 16 Tahun

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkritik blokade baru AS, dengan menyatakan bahwa hal itu secara efektif membatalkan nota kesepahaman Islamabad yang bertujuan meredakan ketegangan.

Situasi semakin meningkat, mendorong kawasan lebih dekat ke perang habis-habisan, karena serangan balasan terus berlanjut.

Pada hari Rabu, Garda Revolusi Iran mengaku bertanggung jawab atas penargetan fasilitas yang terkait dengan Armada Kelima AS di Bahrain.

Militer Yordania melaporkan mencegat dan menghancurkan tiga rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya, menunjukkan besarnya kepentingan regional dalam konflik ini.

>>> Talenta Digital Tertinggal, Industri Terancam Kehilangan Peluang Besar dari Ledakan AI

Menurut media Iran dan sumber resmi, serangan AS yang baru sejak pekan lalu telah mengakibatkan setidaknya 28 korban jiwa di Iran, menyoroti tingginya biaya kemanusiaan dari permusuhan yang sedang berlangsung.