Para ilmuwan tengah berupaya meniru proses biologis yang memungkinkan hewan bertahan hidup berbulan-bulan tanpa makanan atau air, dengan tujuan mewujudkan perjalanan luar angkasa jangka panjang.

Penerbangan luar angkasa yang lama menimbulkan bahaya serius bagi kesehatan manusia, termasuk paparan radiasi berbahaya, kerusakan organ akibat mikrogravitasi, dan tekanan psikologis.

>>> Meksiko Ajukan Gugatan Hukum atas Kematian Warga di AS

Kunci untuk mengatasi tantangan ini mungkin terletak pada hibernasi, mekanisme fisiologis bertahan hidup berusia 250 juta tahun yang digunakan mamalia, burung, dan ikan untuk bertahan dalam kondisi ekstrem.

Hibernasi terbukti melindungi hewan dari banyak bahaya penerbangan luar angkasa, seperti kerusakan radiasi, penipisan tulang, dan kehilangan otot.

Menempatkan penjelajah dalam kondisi tidak sadar jangka panjang mengurangi beban psikologis akibat hidup terbatas, sekaligus menurunkan muatan makanan dan air yang dibutuhkan selama perjalanan.

Manusia bukanlah hewan yang hibernasi secara alami, sehingga para peneliti global yang didanai Badan Antariksa Eropa (ESA) dan NASA mempelajari bagaimana hewan hibernasi mematikan dan menghidupkan fungsi tubuh mereka dengan aman.

Membuka Mekanisme Torpor

Saat hibernasi, hewan menurunkan laju metabolisme, mengonsumsi lebih sedikit oksigen, dan mengemas untaian DNA mereka dengan rapat, yang secara alami melindungi mereka dari partikel radiasi.

"Ini adalah area yang sangat menjanjikan," kata Christiane Hahn, yang mengawasi penelitian biologi luar angkasa di ESA. "Ini benar-benar bisa mengubah masa depan perjalanan luar angkasa."

Untuk mempelajari mekanisme ini, ahli fisiologi Universitas Yale Elena Gracheva memantau tupai tanah bergaris 13 di fasilitas khusus yang disebut hibernakulum.

"Hewan-hewan ini seperti kita saat musim panas, tetapi di musim dingin mereka menjadi organisme yang sama sekali berbeda," katanya.