Saat musim dingin tiba, banyak orang mengandalkan vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, nutrisi ini mungkin justru yang paling sering digunakan secara berlebihan.

Vitamin C memang mendukung sistem imun dan penting dalam pola makan sehat. Namun, khasiatnya sering dibesar-besarkan, sehingga banyak orang mengonsumsinya dalam jumlah besar.

>>> Cristiano Ronaldo vs Lionel Messi: Siapa yang Lebih Kaya?

Risiko konsumsi berlebihan sebenarnya kecil, tetapi kebiasaan ini bisa memboroskan uang dan waktu. Lantas, dari mana vitamin C mendapatkan status superstarnya?

Asal Usul Mitos Vitamin C

Status ini bermula pada tahun 1970-an berkat karya Linus Pauling, peraih Nobel Kimia dua kali.

Ia yakin bahwa "megadosis" sekitar 3.000 mg per hari dapat menghilangkan pilek dan bahkan melawan penyakit serius seperti jantung atau kanker.

Sayangnya, tidak ada studi ketat yang pernah membuktikan klaim tersebut.

Stefan Pasiakos, Direktur Office of Dietary Supplements di NIH AS, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah vitamin C dosis tinggi dapat mencegah atau mengobati pilek.

Sebagian besar studi sepakat bahwa mengonsumsi jus jeruk berlebihan atau suplemen tambahan tidak banyak membantu menangkal pilek.

Untuk orang dewasa di Eropa, asupan harian yang direkomendasikan adalah 110 mg.

Melipatgandakan dosis tidak membuat Anda lebih sehat. Di atas 1.000 mg per hari, tubuh menyerap lebih sedikit, dan kelebihannya akan dikeluarkan melalui urine.

Apakah Jus Jeruk Banyak Membantu?

Jus jeruk memang segar dan kaya vitamin, tetapi tidak seampuh yang digembar-gemborkan. Menurut Christopher Duggan, Profesor Nutrisi di Harvard T.

H. Chan School of Public Health, kecuali Anda memiliki defisiensi atau melakukan aktivitas fisik ekstrem, dosis besar vitamin C tidak akan mencegah atau meredakan pilek.