"Dengan kerja sama yang tadi itu, ketika kita ke Amerika, mereka menjadi yakin bahwa kita memang bergerak ke arah yang benar," ujar Purbaya.

>>> Samsung Rilis One UI 9.0 Beta 4 untuk Galaxy S26 Series

Keputusan Purbaya dan DPR RI menyambangi langsung ke AS juga karena sejak awal tahun sampai sekarang Indonesia dianggap selalu didera oleh berita negatif seperti rating S&P yang akan turun.

Selain itu, Purbaya mengungkap ada juga anggapan kalau Pemerintah Indonesia menggunakan anggaran secara ugal-ugalan, sehingga menimbulkan kesan peringkat utang Indonesia akan diturunkan.

Namun, keputusan S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan outlook stabil dinilai menunjukkan kepercayaan lembaga internasional terhadap kebijakan pemerintah.

"Pengumuman S&P ini memberikan indikasi yang jelas bahwa memang lembaga internasional yang benar, jujur, prudent, dan independen melihat kebijakan kita baik," ujar Purbaya.

Purbaya menyatakan ke depan pemerintah akan tetap minta dukungan kerja sama dari DPR agar tetap bisa menjalankan pengelolaan anggaran secara prudent dan sesuai dengan undang-undang serta tidak menimbulkan penyelewengan.

Dalam laporan S&P terbaru, beberapa poin antara lain proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan proyeksi pertumbuhan riil 5,1 persen pada 2026 dan rata-rata 4,9 persen pada periode 2026-2029.

Lembaga pemeringkat itu memperkirakan pendapatan per kapita Indonesia mencapai sekitar US$5.200 pada tahun ini, naik tipis dari US$5.100 pada 2025 akibat pelemahan rupiah yang mengurangi dampak pertumbuhan nominal PDB.

>>> Cair Mulai 20 Juli, Ini Cara Cek Penerima Bansos PKH-BPNT Tahap 3 2026

Kemudian, S&P memperkirakan defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen terhadap PDB sesuai ketentuan undang-undang, meski belanja subsidi energi meningkat.