Musim panas telah tiba di Inggris, dan bersamanya datang peringatan tentang bahaya sinar matahari serta imbauan untuk berlindung dan menutupi tubuh.

Setelah bertahun-tahun mendengar nasihat seperti itu, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa hubungan antara paparan sinar matahari dan kesehatan yang buruk sudah mapan.

>>> Penjualan Kendaraan Listrik Global Tembus 2 Juta Unit pada Juni 2026

Namun, kenyataannya justru sebaliknya: mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari cenderung lebih sehat, bahkan jauh lebih sehat.

Rowan Jacobsen, penulis buku "In Defense of Sunlight", telah meneliti topik ini selama sembilan tahun setelah secara tidak sengaja menemukan beberapa studi.

Ia menyimpulkan bahwa kita tidak perlu terlalu takut pada sinar matahari. Sebaliknya, kebanyakan orang justru bisa mendapatkan manfaat dari paparan yang lebih banyak.

Sinar matahari yang mengenai kulit memang menghasilkan vitamin D, tetapi kini diketahui juga memproduksi puluhan molekul bermanfaat lainnya.

Molekul-molekul tersebut menurunkan tekanan darah, mengurangi peradangan, meningkatkan energi dan kewaspadaan, memperbaiki kualitas tidur, serta membuat Anda merasa lebih baik dengan melepaskan endorfin alami di otak.

Hasilnya? Lebih sedikit penyakit dan umur yang lebih panjang.

Data Angka yang Menjanjikan

Pada tahun 2024, para ilmuwan menerbitkan sebuah studi di mana mereka memasang monitor pergelangan tangan pendeteksi cahaya pada lebih dari 88.000 sukarelawan dari dataset UK Biobank.

Mereka melacak paparan cahaya para partisipan, siang dan malam, lalu mengikuti mereka selama bertahun-tahun untuk melihat hasilnya.

Mereka yang menerima sinar matahari paling banyak memiliki kemungkinan 34% lebih rendah untuk meninggal karena sebab apa pun dibandingkan mereka yang mendapat paparan cahaya di bawah rata-rata.