"Kami sangat marah atas pemutusan hubungan kerja ini karena para perawat yang berdedikasi ini digantikan oleh AI," katanya.

Menurut Kalathil, penggantian perawat dengan AI juga perlu menjadi perhatian tenaga kesehatan dan pasien karena dapat memengaruhi masa depan serta kualitas layanan kesehatan.

>>> Ricuh BYD Salah Kirim, Konsumen Pesan Model 2026 yang Datang 2025

Shuler mengatakan alur kerja di departemennya berubah tanpa penjelasan setelah para perawat kembali bekerja pada Februari seusai aksi mogok.

Para pekerja kemudian melaporkan perubahan tersebut kepada serikat dan mengirimkan surat elektronik kepada manajemen.

Namun, Shuler menyebut pihaknya tidak mendapat tanggapan sampai 28 Mei.

Pada waktu tersebut, seluruh 12 perawat di departemennya menerima pemberitahuan bahwa mereka di-PHK dalam waktu 45 hari.

Shuler menjelaskan pekerjaannya kerap melibatkan komunikasi yang rumit, termasuk mengenai perubahan obat dan perencanaan kepulangan pasien.

Menurutnya, tugas semacam itu sulit dilakukan sepenuhnya menggunakan AI.

"AI seharusnya menjadi alat yang digunakan bersama tenaga klinis ahli, bukan untuk menggantikan mereka," terang Shuler.

Ia menegaskan para perawat tidak menolak teknologi, tetapi mereka mempersoalkan penerapan teknologi baru yang dinilai belum memiliki cukup bukti pendukung.

Montefiore tidak memberikan tanggapan khusus mengenai PHK tersebut.

Rumah sakit hanya menyatakan perubahan teknologi diterapkan pada program nonklinis yang berkaitan dengan pekerjaan administrasi.

Wakil Presiden Senior Hubungan Pemerintah dan Komunikasi Strategis Montefiore Joe Solmonese membantah keterangan serikat pekerja dan menyebut klaim NYSNA tidak akurat serta menyesatkan.

>>> VARgentina Ramai Usai Argentina Dituduh Dibantu Wasit di Piala Dunia 2026

"Yang pasti, kami selalu berinvestasi dalam teknologi baru untuk memastikan perawatan dan hasil terbaik bagi pasien kami, dan akan terus melakukannya demi kesejahteraan masyarakat yang kami layani," katanya.