Kemajuan pesat China di bidang energi cerdas dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi kerja sama internasional di sektor energi.

Hal ini menjadi sorotan dalam Konferensi Energi Cerdas China 2026 yang baru saja berakhir di Chengdu, Provinsi Sichuan, China barat daya.

>>> Taylor Swift Bayar Rp2,5 Miliar untuk Polisi NYPD di Pernikahan MSG

Acara tersebut dihadiri para pembuat kebijakan, peneliti, dan perwakilan industri dari berbagai negara untuk membahas jalur kerja sama energi di era digital.

Shi Yubo, ketua China Energy Research Society, mengatakan industri energi cerdas China telah beralih dari proyek percontohan ke penerapan komersial skala besar.

AI kini diterapkan pada peramalan energi terbarukan, sementara teknologi digital mengubah setiap tahap rantai nilai energi, dari produksi hingga konsumsi.

Ketertarikan Negara Berkembang

Bagi banyak delegasi, pengalaman China menawarkan seperangkat alat praktis yang dapat disesuaikan dengan kondisi nasional yang berbeda.

Hussain Abid, ekonom senior International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), menilai China jauh lebih maju dalam teknologi cerdas dan penggunaan AI di sektor energi.

Ia mengatakan forum ini menjadi platform berharga untuk belajar dari pengalaman China.

Menurut Abid, negara pegunungan sangat membutuhkan jaringan listrik yang lebih cerdas dan konektivitas energi lintas batas yang lebih kuat seiring meningkatnya pangsa energi terbarukan.

ICIMOD berharap dapat membawa lebih banyak pakar dari negara anggota ke China untuk kunjungan pertukaran di masa depan.

Kiwi Aliwarga dari UMG IdeaLab Indonesia sering berhenti di stan perusahaan energi China untuk menanyakan platform digital, perangkat lunak manajemen energi, dan aplikasi AI.

>>> Kakak Lindsey Graham Resmi Gantikan Kursi Senat Sang Adik