Keluarga seorang pria asal Perth yang meninggal di pusat detensi imigrasi di Bali mengaku 'hancur' dan memiliki banyak pertanyaan tanpa jawab terkait kematiannya.

Cameron Hughes, 39 tahun, telah tinggal di Bali selama lebih dari 15 tahun.

>>> Viral Juli 2026! Ini Rahasia Bikin Foto Profil 'Gaya Pak Jokowi' Pakai AI, Simpel dan Hasilnya Berwibawa

Ia menikah, memiliki seorang putra berusia delapan tahun, dan menjalankan bisnis restorasi mobil di Jimbaran, Kuta Selatan.

Menurut keluarga, Hughes baru saja berpisah dari istrinya yang berkewarganegaraan Indonesia dan sedang mengurus perpanjangan visa agar bisa tetap dekat dengan putranya.

Kronologi Kematian

Pejabat imigrasi Bali menyatakan Hughes ditahan pada Jumat waktu setempat karena diduga melanggar ketentuan visanya. Beberapa jam kemudian, ia ditemukan tidak sadarkan diri.

Juru bicara imigrasi Bali mengatakan petugas melihat keanehan melalui CCTV saat Hughes tidak bergerak dalam waktu lama di kamar mandi.

Petugas kemudian memeriksa tanda vital, memberikan pertolongan pertama, dan menghubungi rumah sakit.

>>> Skandal Pelecehan di Bus MTrans: Kronologi Lengkap, PHK Pelaku, dan Kritik Pedas Warganet yang Viral

Tim medis memberikan perawatan awal sebelum membawa Hughes ke Rumah Sakit Umum Bali Jimbaran. Namun, ia dinyatakan meninggal dalam perjalanan dengan dugaan awal serangan jantung.

Informasi Simpang Siur

Keluarga Hughes mengaku menerima informasi yang bertentangan sehingga menimbulkan pertanyaan tentang penyebab kematian. Mereka ingin tahu lebih detail mengenai proses penahanan dan apa yang terjadi selama ia ditahan.

Anggota keluarga membantah tuduhan bahwa Hughes tidak kooperatif dengan petugas. Mereka mengaku telah berkomunikasi secara rutin dengan otoritas imigrasi Bali untuk mengklarifikasi statusnya.

Keluarga berencana bekerja sama dengan staf konsuler untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia memberikan bantuan konsuler kepada keluarga Hughes.

>>> Viral! Komentar Tak Pantas Tenaga Medis ke Amanda Zahra, ERHA Group Resmi Minta Maaf dan Bekukan Praktiknya

Juru bicara departemen menyampaikan belasungkawa dan mengatakan tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut karena kewajiban privasi.