Video seperti "Early Morning Outing" dan "Early Morning Escape" menunjukkan anggota dengan riang menggunakan kartu kredit perusahaan dan menyelinap keluar asrama.

Di masa lalu, tindakan seperti itu akan dianggap sebagai pelanggaran disiplin serius. Namun, CORTIS justru mengubahnya menjadi konten yang menghibur, menonjolkan sifat bebas para anggota.

Konten semacam ini masih jarang ditemukan pada grup K-Pop yang baru debut.

>>> BTS Gelar Acara 'The City' di New York Sambut Tur Dunia

Kritikus musik Kim Do-heon mengatakan bahwa CORTIS mendefinisikan ulang arti menjadi idola kreatif dengan menunjukkan bahwa proses berkarya itu sendiri bisa menjadi sumber kesenangan.

Beberapa pihak menafsirkan popularitas CORTIS sebagai hasil dari perubahan selera audiens.

Selama beberapa dekade, K-Pop tumbuh subur dengan narasi "dari miskin menjadi sukses", seperti kisah BTS yang berbagi satu kamar mandi saat trainee.

Namun, respons terhadap narasi semacam itu mulai berubah.

Debut Annie, cucu Ketua Shinsegae Group Lee Myung-hee, sebagai anggota Allday Project menandai pertama kalinya anggota keluarga konglomerat debut di grup idola K-Pop.

Hal ini menunjukkan bahwa jenis cerita yang berbeda juga bisa diterima.

Penonton tidak lagi hanya tertarik pada kisah perjuangan, tetapi juga pada kemudahan, ketidakpedulian, dan rasa percaya diri yang alami.

Seorang pengguna media sosial menulis, "Menonton BTS bangkit dari nol melalui 'Blood Sweat & Tears' membuat saya merasa terikat secara emosional dengan perjuangan mereka.

Dengan CORTIS, saya bisa menikmati menonton mereka tanpa beban itu."

Kritikus dan penulis Ahn Hee-je mengatakan bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara orang memandang kesuksesan.

"Saat ini, banyak orang percaya bahwa keuntungan bawaan lebih penting daripada upaya tanpa henti.

Akibatnya, kualitas seperti kepercayaan diri yang santai telah muncul sebagai daya tarik baru bagi idola."

Namun, beberapa akademisi melihat sisi lain.

>>> Drama 'The Apartment Job' Tampilkan Kerja Sama Tim 'Keluarga Palsu' yang Lucu

Profesor Riset Jin Soo-hyun dari Universitas Chung-Ang berpendapat bahwa popularitas "keren tanpa usaha" di K-Pop mungkin mencerminkan tren yang lebih mengkhawatirkan, yaitu reproduksi kelas sosial yang ada.