Ban impor asal China akan segera lebih mahal di Eropa setelah Uni Eropa memberlakukan tarif anti-dumping hingga 45,3 persen.

Kebijakan ini dipicu oleh keluhan dari asosiasi produsen ban Eropa yang menuding produsen China menjual ban di bawah harga pasar.

>>> Dodge Siapkan Charger Sixpack Terbaru dengan Tenaga Lebih dari 550 HP

Pada 2024, rata-rata nilai impor sebuah ban China mencapai €30,30 atau sekitar Rp530.000.

Dengan tarif 45,3 persen, biaya tambahan per ban mencapai sekitar €13,70.

Sementara tarif yang lebih rendah sebesar 24,4 persen akan menambah biaya sekitar €7,40 per ban.

Setelah PPN ditambahkan, kenaikan harga per ban diperkirakan antara €9 hingga €16 sebelum margin pengecer.

Latar Belakang Penyelidikan

Brussels membuka penyelidikan pada Mei 2025 setelah menerima pengaduan dari Koalisi Melawan Impor Ban Tidak Adil, yang mewakili produsen Eropa seperti Michelin, Pirelli, dan Continental.

Koalisi tersebut melaporkan margin dumping antara 41 hingga 104 persen, dengan harga ban China 30 hingga 65 persen lebih murah dari produk Eropa.

Produsen China seperti Shandong Yongsheng dan perusahaan lain yang tidak mendapat tarif individual akan dikenakan bea 45,3 persen.

>>> Denza Bao 5 Siap Saingi Land Rover Defender di Inggris dengan Harga Setara

Perusahaan yang dianggap kooperatif dalam penyelidikan hanya dikenakan tarif 24,4 persen.

Merek Korea Hankook yang memiliki pabrik di China mendapat tarif lebih rendah sebesar 4,3 persen karena produknya berada di segmen menengah atas dengan harga jual lebih tinggi.

Pangsa pasar ban China di Eropa melonjak dari 18 persen pada 2021 menjadi 28 persen pada 2024.

Sekitar 93 juta ban China diimpor ke Uni Eropa pada tahun lalu.

Komisi Eropa mencatat sekitar 336 juta ban penumpang dan kendaraan ringan digunakan di seluruh EU pada 2024.

China dan importir Eropa menolak tuduhan dumping dan memperingatkan bahwa tarif dapat memicu kenaikan harga serta kelangkaan ban murah.

>>> VW Group Bakal Hapus Setengah Model Mobilnya pada 2030, Merek Besar Terancam

Namun, Komisi Eropa menolak argumen tersebut dengan alasan produsen Eropa telah kehilangan volume produksi, penjualan, dan pangsa pasar.