Subsidi kendaraan listrik dari pemerintah pusat Jepang dan Pemerintah Metropolitan Tokyo mampu memangkas harga mobil listrik baru hingga sangat rendah.

Nissan Sakura, misalnya, bisa didapatkan hanya dengan 560.000 yen atau sekitar Rp62,42 juta.

>>> OJK Dukung Perpanjangan Tenor SAL untuk Ekspansi Kredit

Angka tersebut jauh di bawah harga jual resmi Sakura yang mencapai 2,44 juta yen (sekitar Rp271,97 juta).

Bahkan, harga baru ini lebih murah dibandingkan versi bekasnya yang rata-rata dijual 1,51 juta yen (sekitar Rp168,31 juta).

Cara Kerja Subsidi Ganda

Insentif yang menciptakan anomali harga ini berasal dari dua lapis subsidi.

Lapis pertama adalah subsidi nasional yang dinaikkan pemerintah Jepang pada Januari menjadi maksimal 1,3 juta yen (sekitar Rp144,9 juta).

Lapis kedua adalah subsidi dari Pemerintah Metropolitan Tokyo yang juga dinaikkan menjadi 1,3 juta yen per awal bulan ini.

Mekanisme subsidi Tokyo bersifat bertingkat, di mana mobil listrik dari Nissan, Honda, dan Toyota langsung mendapat 900.000 yen.

Tambahan 400.000 yen bisa didapat jika pembeli memenuhi syarat tertentu, seperti memasang alat pengisian daya dan pembangkit listrik tenaga surya.

Dengan skema ini, pembeli Sakura di Tokyo bisa membayar serendah 560.000 yen.

Tanpa syarat tambahan, pembeli cukup membayar 960.000 yen (sekitar Rp107 juta). Angka ini sudah lebih terjangkau dibanding kebanyakan kei car bermesin bensin.

Penjualan Melonjak Drastis

Berkat insentif ini, penjualan mobil listrik di Jepang meningkat tajam.

>>> Kortas Tipidkor Sita Rp67,2 Miliar dan Emas 74 Kg dari Penggeledahan di Cipete dan Sentul

Sepanjang kuartal April-Juni, penjualan mobil listrik penumpang mencapai 32.378 unit, hampir tiga kali lipat dari periode sama tahun lalu.