Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengkaji usulan skema berlangganan TransJakarta sebesar Rp200 ribu per bulan.

Usulan ini disampaikan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) bersamaan dengan rencana penyesuaian tarif reguler menjadi Rp5.000.

>>> Takeru Satoh Bergabung dalam Film Kungfu Soccer Garapan Stephen Chow

Ketua DTKJ Sugihardjo mengatakan skema langganan bertujuan agar ongkos pekerja yang setiap hari menggunakan angkutan umum lebih terjangkau.

Perhitungannya didasarkan pada asumsi perjalanan pulang pergi selama 25 hari kerja dalam sebulan.

"Jadi, kalau orang yang bekerja hitungannya sehari sebulan 25 hari kerja, itu tarifnya mestinya kalau Rp5.000 berangkat, Rp5.000 pulang, udah Rp10 ribu.

Kan jadi kali 25 hari berapa? Rp250 ribu," ujar Sugihardjo, Jumat (3/7).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan usulan DTKJ akan segera dibahas. "Untuk usulan dari dewan transportasi, tentunya segera akan dikaji oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Saya sudah mendapatkan usulan tersebut," kata Pramono di Jakarta Pusat, Selasa (7/7).

Sejumlah pekerja yang menggunakan TransJakarta memberikan tanggapan beragam. Putri (25), pengguna koridor 4D (Pulogadung-Kuningan), mengaku tertarik mendaftar skema langganan jika tarif naik menjadi Rp5.000.

Namun, ia menghitung biaya ongkos bulanannya masih kurang dari Rp200 ribu karena tidak setiap hari naik TransJakarta.

"Sebenarnya tergantung, kalau pake harga Rp5.000 gue setuju. Gue personally sebagai orang yang naik Tj untuk kerja agak 50-50 sih.

>>> Cara Lewatkan Waktu di Black Flag Resynced

Itungannya kalo 24 hari gue kerja masih less than Rp200 ribu soalnya," kata Putri, Rabu (8/7).

Meski begitu, Putri menilai skema langganan akan sangat baik bagi pekerja yang harus double tap saat transit berpindah koridor.