Roda waktu terus berputar, membawa kita meninggalkan bulan-bulan awal dalam penanggalan Hijriah. Bagi umat Islam di Indonesia, Jumat pekan ini, 10 Juli 2026, menjadi momentum penting. Kita tidak hanya sedang berada di penghujung bulan mulia Muharram, tetapi juga bersiap melangkah masuk ke bulan Safar.
 
Bertepatan dengan 25 Muharram 1448 H, momen ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk mengevaluasi diri. Apakah kita telah memaksimalkan hari-hari terakhir di bulan haram (suci) ini? Dan bagaimana seharusnya kita menyikapi datangnya bulan Safar yang kerap dilabeli mitos "bulan sial"?
 
Bagi para khatib yang akan bertugas memimpin shalat Jumat, berikut adalah rujukan teks khutbah lengkap yang mengangkat tema refleksi akhir Muharram dan meluruskan pandangan keliru tentang bulan Safar, sebagaimana merujuk pada kalender Hijriah 2026 terbitan Kementerian Agama RI.
 

Menyingkap Tabir Mitos "Bulan Sial"

Dalam masyarakat pra-Islam (Jahiliyah), bulan Safar sering kali dianggap sebagai bulan yang membawa sial atau bala. Kata Safar secara bahasa bisa diartikan sebagai "kosong" atau "sunyi". Konon, masyarakat Arab kuno mengosongkan rumah mereka untuk pergi merantau atau berperang pada bulan ini karena ketakutan akan datangnya bencana.
 
Namun, Islam datang membawa cahaya tauhid yang menghapus segala bentuk khurafat. Rasulullah SAW dengan tegas membantah anggapan bahwa waktu tertentu memiliki kekuatan mistis untuk mendatangkan kesialan.
 
"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan (thiyarah), tidak (pula) burung hantu, dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar." (HR. al-Bukhari).
 
Hadis ini menjadi landasan teologis yang kuat bahwa berkah atau musibah tidak ditentukan oleh pergantian bulan, melainkan oleh amal perbuatan manusia itu sendiri.
 
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif memberikan sebuah kaidah emas yang patut kita renungkan: