Data itu kemudian menjadi bekal bagi Portugis ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Nusantara pada 1500 Masehi.

Menurut Koesoemadinata, bangsa Portugis tiba di Nusantara pada suatu wilayah kerajaan yang bernama Kerajaan Sunda.

Mereka menyimpulkan bahwa Nusantara adalah Sunda karena di bagian barat pulau-pulaunya besar disebut Soenda Mayor (Sunda Besar), sedangkan di timur pulau-pulaunya kecil disebut Soenda Minor (Sunda Kecil).

Istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil masih digunakan dalam pustaka geologi-geografi hingga saat ini.

Koesoemadinata juga menjelaskan asal usul penyebutan Sunda dalam ilmu bumi merujuk pada pandangan ahli Geologi Reinout van Bemmelen pada 1949.

Menurut Bemmelen, istilah Sunda berasal dari Bahasa Sansekerta 'Cuddha' yang berarti 'putih'.

Konon, di zaman Pleistosen, di utara Bandung terbentuk gunung api raksasa yang dinamai Gunung Sunda Purba.

Gunung itu mengalami erupsi dahsyat dan menutupi wilayah sekitarnya dengan abu vulkanik berwarna putih.

Wilayah sekitar Gunung Sunda Purba diyakini sudah berpenduduk berdasarkan bukti artefak.

Daerah tersebut kemudian dikenal sebagai Negeri Putih (Cuddha) atau cikal bakal 'Sunda Land', dan penduduknya dinamakan 'Orang Sunda'.

Dari Kerajaan hingga Kolonial

Sebelum era kolonial, kawasan ini lebih dikenal sebagai Tatar Sunda atau Pasundan yang menjadi pusat perkembangan budaya dan peradaban masyarakat Sunda.

>>> Teleskop Webb Temukan Bulan Kecil Baru di Antara Cincin Uranus

Wilayah Tatar Sunda telah berkembang sejak abad ke-5 saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.

Kerajaan Hindu itu meninggalkan sejumlah prasasti berbahasa Sanskerta yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat.

Memasuki abad ke-8, setelah runtuhnya Tarumanegara, kekuasaan dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda atau Pajajaran yang berpusat di Pakuan Pajajaran, kini Kota Bogor.