Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda semakin berkembang setelah seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat menyetujui usulan tersebut untuk dilanjutkan ke tahap legislasi pada Kamis (2/7) lalu.

Gagasan ini digagas oleh sejumlah tokoh Sunda, budayawan, dan akademisi yang dipimpin oleh Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia.

>>> Iringan Peti Khamenei Tiba di Irak, Ribuan Warga Antusias Meski Panas

Dalam wawancara dengan CNNIndonesia.

com, Ganjar menceritakan bahwa ide ini pertama kali muncul dalam Kongres Sunda di Bandung pada Oktober 2020 dan kembali menguat karena dorongan berbagai elemen masyarakat.

Usulan tersebut kini telah mendapat perhatian dari DPRD Jawa Barat dan akan dilanjutkan ke tahap uji publik.

Alasan di Balik Usulan Perubahan Nama

Ganjar menjelaskan bahwa perubahan nama ini bertujuan untuk menegaskan ruang hidup yang memiliki akar kebumian, sejarah, budaya, bahasa, dan memori kolektif yang panjang.

Menurutnya, usulan ini tidak hanya untuk orang yang secara biologis bersuku Sunda, melainkan untuk semua orang yang tinggal, bekerja, dan berkontribusi di wilayah ini.

Ia menilai nama 'Jawa Barat' hanya bersifat administratif dan menunjukkan arah mata angin, sementara 'Sunda' memiliki makna kewilayahan yang lebih mendalam.

Ganjar juga menyoroti bahwa Provinsi Banten, yang sebelumnya bagian dari Jawa Barat, kini berada di sebelah barat, sehingga nama 'Jawa Barat' menjadi kurang tepat secara geografis.

>>> Cara Cek Daftar Wilayah Penerima Bansos PKH dan BPNT 8 Juli 2026

Dasar Ilmiah dan Identitas Kewilayahan

Dalam ilmu kebumian, dikenal istilah Paparan Sunda (Sunda Shelf), yaitu kawasan landas kontinen Asia Tenggara yang mencakup Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan sekitarnya.