Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan sindiran terhadap kekuatan militer Iran. Ia mengklaim pasukannya berhasil menghancurkan puluhan kapal Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz.

Trump mengatakan operasi militer terbaru menghantam armada laut Iran yang selama ini digunakan untuk mengancam jalur pelayaran internasional.

>>> Trump Yakin Perang Iran-AS Tak Akan Terulang, Situasi Dinilai Aman

Menurutnya, puluhan kapal kecil berhasil dihancurkan dalam satu malam.

"Kami menghantam banyak dari mereka tadi malam, sekitar 28 kapal. Kami menghancurkan 28 kapal tadi malam," kata Trump, dikutip Kamis (9/7).

Trump kemudian menyindir kemampuan militer laut Iran. Ia mengatakan armada yang dimiliki negara itu kini hanya tersisa kapal-kapal berukuran kecil.

"Kapal-kapal kecil. Hanya itu yang mereka miliki, kapal-kapal kecil," ujarnya.

Pernyataan itu merujuk pada kapal cepat yang banyak dioperasikan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz.

Trump menilai setelah serangan pasukannya, Iran tidak lagi memiliki kemampuan berarti untuk menghadapi operasi militer AS.

Trump tidak memberikan jawaban pasti soal kemungkinan serangan lanjutan. Namun, ia mengisyaratkan peluang operasi masih terbuka.

>>> Trump Klaim Jadi Target Utama Pembunuhan Iran, Amerika Waspada

"Biasanya saya tidak akan memberi tahu Anda. Tetapi Anda tahu apa?

Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Jadi jawabannya mungkin," kata Trump.

Komentar tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Washington dan Teheran.

Sebelumnya, AS mengumumkan telah menyerang lebih dari 80 target militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.

Target operasi meliputi sistem pertahanan udara, radar, rudal antikapal, hingga aset Garda Revolusi Iran. Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Ketegangan yang terus meningkat membuat kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting secara global.

>>> Krisis Memori Parah, Harga DDR4 Naik Lebih 50% pada Q3 2026

Konflik berkepanjangan dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi internasional dan memicu kenaikan harga minyak dunia.