Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tak terduga mengubah rencana perjalanannya pada Rabu (16/4).

Ia memilih terbang dari Turki ke Inggris menggunakan Air Force One yang lebih lama, bukan pesawat baru yang merupakan hadiah dari Qatar.

>>> LeBron James Rayakan Anniversary 'The Decision' di Lapangan Golf

Perubahan mendadak ini memicu pertanyaan intens tentang potensi ancaman keamanan dalam konferensi pers di KTT NATO di Ankara.

Trump sebelumnya tiba di Ankara dengan jet baru senilai 400 juta dolar AS tersebut.

Sebelum KTT berakhir, Trump mengumumkan penyesuaian itu melalui unggahan media sosial. Ia membingkai keputusan tersebut sebagai kesempatan bagi personel militer.

"Untuk menghormati pria dan wanita pemberani di Militer kita, kami mengirim Air Force One yang baru dan benar-benar spektakuler ke Pangkalan Angkatan Udara Mildenhall, di Inggris, untuk memberi mereka kesempatan melihat pesawat tersebut," tulis Trump.

Ia menambahkan bahwa model lama akan digunakan untuk perjalanan singkat tersebut.

"Untuk kenangan masa lalu, kami akan menggunakan bekas Air Force One, dari Turki ke Mildenhall, perjalanan singkat yang sangat layak dilakukan untuk memberi Pahlawan Militer kita kesempatan menghargai tambahan baru yang indah di Armada Angkatan Udara!"

ujar Trump.

Dalam jumpa pers di Ankara, wartawan mendesak pemerintah AS apakah perubahan itu terkait dengan intelijen yang sedang berlangsung mengenai ancaman dari Teheran.

Seorang reporter menyoroti pernyataan presiden sebelumnya tentang keselamatan dirinya.

"Anda telah berbicara dua kali hari ini tentang kemungkinan mereka membunuh Anda dan mungkin berhasil," kata reporter itu.

>>> Arsenal Siapkan Tawaran 60 Juta Pound untuk Bruno Guimaraes

Trump menghindari pertanyaan spesifik tentang logistik pesawat, tetapi secara terbuka membahas bahaya yang terus mengintai masa kepresidenannya.