Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan jaringan 5G di Indonesia mencapai 80% pada 2030.

Target tersebut akan didukung melalui penambahan spektrum frekuensi, termasuk proses seleksi pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang tengah berlangsung.

>>> Industri Agro Indonesia Bidik Peluang Ekspor dan Investasi di INNOPROM 2026

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menyatakan, saat ini sedang berlangsung bidding harga untuk frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.

"Hari ini sebenarnya lagi bidding harga untuk frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Artinya akan masuk ke era 5G.

5G kami sekarang masih di bawah 10%, tapi akan segera naik sampai 80% di 2030," ujar Edwin dalam Indonesia Digital Banking Summit (IDBS) 2026 di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Ia menambahkan, tambahan spektrum frekuensi menjadi fondasi penting dalam memperkuat infrastruktur digital nasional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi digital ke depan tidak hanya bergantung pada kecepatan perputaran uang, tetapi juga kecepatan perpindahan data.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan infrastruktur digital yang mampu menghadirkan konektivitas cepat, andal, dan aman.

Edwin menjelaskan, ekosistem tersebut terdiri atas infrastruktur fisik seperti jaringan broadband, seluler, satelit, dan spektrum frekuensi, infrastruktur virtual berupa pusat data, komputasi awan, dan keamanan siber, hingga platform digital serta aplikasi seperti layanan perbankan digital dan fintech.

Kecepatan internet Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN, seperti Singapura dan Malaysia.

>>> Sebastian Gunawan Signature 2026: Kebebasan dalam Balutan Jazz & Jasper

Pemerintah mendorong percepatan implementasi 5G, penataan industri broadband, serta penyusunan masterplan infrastruktur digital guna meningkatkan daya tarik investasi di sektor telekomunikasi.