Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyentuh level Rp18.000 pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026).

Mata uang Garuda terparkir di Rp18.014 atau melemah 34 poin dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.980 per USD.

>>> Usai Bertemu Purbaya, Said Iqbal Putuskan Demo Buruh di Kemenkeu Batal

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hingga Semester I-2026, defisit tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.656 triliun.

Defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

"Secara tahunan, defisit APBN Semester I-2026 justru lebih rendah 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84% terhadap PDB," kata Ibrahim.

Namun, ia menambahkan bahwa sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN.

>>> Ade Darmawan Diserang Balik: Siapa Bilang Putusan Praperadilan Roy Suryo Gugurkan Perkara?

Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar dari US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026.

Meski naik, cadangan tersebut tetap berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir.

Kenaikan cadangan devisa ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

BI menyebut posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

>>> Bambang Pacul: Isu Papua Tanggung Jawab Wapres Gibran

"Cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ibrahim.