Porsi terbesar berasal dari pinjaman bank jangka pendek senilai US$192,71 juta atau Rp3,46 triliun, disusul utang usaha sebesar US$50,24 juta atau Rp903,8 miliar.

Kondisi tersebut membuat perusahaan mencatat defisiensi modal atau ekuitas negatif sebesar US$51,5 juta per akhir Maret 2025.

Rincian Pinjaman Bank

Pinjaman terbesar berasal dari PT Bank Permata Tbk sebesar US$53,12 juta, disusul PT Bank Central Asia Tbk sebesar US$40,29 juta, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar US$30,71 juta, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,8 juta, serta PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta.

Nilai tersebut belum termasuk bunga pinjaman. Secara keseluruhan, total kewajiban kredit kepada sejumlah bank mencapai sekitar Rp2,8 triliun.

Dampak Operasional

Perseroan mengakui keterbatasan modal kerja membuat operasional belum berjalan normal. Saat ini PMMP hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo.

Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari pihak lain dengan skema pembayaran dilakukan setelah hasil ekspor diterima.

Tekanan operasional juga berdampak pada tenaga kerja.

Sejak 2024 hingga saat ini, PMMP telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian.

>>> Mesir Tuntut FIFA Investigasi Wasit Kontroversial lawan Argentina

Selain itu, sebanyak 82 staf tercatat mengundurkan diri.