Profil Perusahaan Kaesang PT PMMP yang Terlilit Utang Bank Rp2,8 T
PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang Pangarep dikabarkan menghadapi masalah kredit macet.
Perusahaan pengolahan dan eksportir udang ini mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank akibat tekanan likuiditas dan keterbatasan modal kerja.
>>> Pasar Prediksi Bereaksi pada Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
PMMP didirikan pada 2004 dan berkantor pusat di Surabaya.
Fasilitas pengolahannya berlokasi di Situbondo dan Tarakan, dengan total kapasitas produksi mencapai 25 ribu ton per tahun serta cold storage berkapasitas 46 ribu ton.
Pada 2019, PMMP mengklaim sebagai eksportir udang nasional peringkat kedua berdasarkan volume ekspor.
Produknya diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan negara lainnya, serta telah menembus pasar ritel dan food service di AS dan Jepang.
Susunan Direksi dan Komisaris
Direksi PMMP terdiri dari Martinus Soesilo sebagai Direktur Utama, Hirawan Tedjokoesoemo sebagai Wakil Direktur Utama, Alin Rostanti sebagai Direktur, dan Patrick Djuanda sebagai Direktur.
Komisaris dijabat oleh Soesilo Soebardjo (Komisaris Utama), Suwarli, dan Salis Teguh Hartono.
PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan milik Kaesang Pangarep, tercatat sebagai pemegang saham di atas 5 persen dengan 188,24 juta saham atau setara 7,27 persen.
>>> Mati Suri Sejak 2020, Pramono Buka Lagi Perpustakaan Nyi Ageng Serang
Rincian Utang Bank Rp2,8 Triliun
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI pada Kamis (2/7), PMMP memiliki kewajiban kredit ke sejumlah bank dengan total sekitar Rp2,8 triliun.
Utang terbesar ke Bank Permata sebesar US$53,12 juta (Rp953,4 miliar) plus fasilitas Rp5,49 miliar.
Utang lainnya meliputi Bank Central Asia US$40,29 juta (Rp723 miliar), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia US$30,71 juta (Rp551,2 miliar), Bank SMBC Indonesia US$22,8 juta (Rp409,1 miliar), Bank Maspion US$7,21 juta (Rp129,4 miliar), dan Bank Resona Perdania US$5,99 juta (Rp107,5 miliar).
Manajemen menyatakan saldo tersebut di luar utang bunga.
Perseroan mengakui mengalami kendala modal kerja dan membutuhkan sekitar US$15 juta (Rp269,1 miliar) untuk operasional.
Saat ini hanya satu pabrik di Situbondo yang beroperasi, dan perusahaan membeli produk jadi dari pihak lain dengan pembayaran setelah ekspor diterima.
Penurunan kapasitas produksi berdampak pada efisiensi tenaga kerja.
>>> Bapenda DKI Beri Apresiasi Wajib Pajak PKB Teladan 2026
Sejak 2024, PMMP telah melakukan PHK terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian, serta 82 staf mengundurkan diri.
Update Terbaru
JPU: Eks Kapolres Bima Kota Umrahkan Keluarga Pakai Setoran Narkoba
Selasa / 07-07-2026, 18:07 WIB
Macron Selamat dari Ledakan Bom di Suriah, Diduga Upaya Pembunuhan
Selasa / 07-07-2026, 18:07 WIB
Unik, Messi Kucing Jogja Jadi Hewan Pertama Dapat KTA Muhammadiyah
Selasa / 07-07-2026, 18:07 WIB
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026
Selasa / 07-07-2026, 18:07 WIB
Kode Redeem Guardian Tales Juli 2026: experiment, finalgtstream, tothegtfans
Selasa / 07-07-2026, 18:03 WIB
Prabowo Dorong Pelabuhan Sabang Jadi Hub Strategis dengan India
Selasa / 07-07-2026, 18:03 WIB
7 Ciri Orang yang Matang Secara Emosional, Modal Bangun Hubungan Sehat
Selasa / 07-07-2026, 18:03 WIB
Kao USA Tarik Oribe Shampoo karena Kontaminasi Bakteri
Selasa / 07-07-2026, 18:01 WIB
WWE Gelar Tiga Laga Perebutan Gelar di Raw Chicago
Selasa / 07-07-2026, 18:01 WIB
Truk Tabrak Pembatas Jalan di A15, Lalu Lintas Macet Parah
Selasa / 07-07-2026, 18:00 WIB
KPK Sita Barang Bukti Usai Geledah Kantor Bupati hingga DPRD Kuansing
Selasa / 07-07-2026, 18:00 WIB
Isu Keretakan Farhan-Erwin di Pemkot Bandung, Wawalkot Akui Tak Dilibatkan
Selasa / 07-07-2026, 18:00 WIB
Prediksi Susunan Pemain Argentina vs Mesir: Messi Vs Salah di 16 Besar Piala Dunia 2026
Selasa / 07-07-2026, 18:00 WIB
Microsoft PHK 4.800 Karyawan, Divisi Xbox Dirombak Besar-besaran
Selasa / 07-07-2026, 18:00 WIB







