Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengkaji ulang kelanjutan program konversi motor konvensional ke motor listrik untuk tahun ini.

Aturan terkait program tersebut masih dalam tahap draf.

>>> Manga Seven Sleeping Beauties Karya Fiok Lee Diadaptasi Jadi Anime TV pada 2027

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan skema insentif baru yang lebih murah dari program sebelumnya.

"Konversi motor listrik itu selama ini yang dilakukan kementerian ESDM sesuai peraturan menterinya sampai dengan tahun 2024. Waktu itu saya mau melakukan revisi permennya untuk diperpanjang atau tidak.

Masih berbentuk draft," ujar Eniya di Jakarta, Selasa (7/7).

Kajian Melibatkan Berbagai Pihak

Kajian ini melibatkan Kementerian Sains dan Teknologi, serta institusi pendidikan seperti ITB dan ITS.

Fokus kajian adalah besaran bantuan pemerintah dan keterlibatan sektor swasta melalui dana CSR agar tidak membebani masyarakat.

Pada program sebelumnya, pemerintah memberikan insentif Rp10 juta per unit dari total biaya konversi sekitar Rp15 juta.

Kekurangan Rp5 juta per unit ditutup lewat CSR perusahaan, sehingga pemilik motor tidak perlu membayar.

>>> Sekjen PU Klarifikasi Dokumen Kunker Menteri yang Sertakan Nama Istri dan Anak

Perusahaan yang menyalurkan dana CSR mendapat poin tambahan dalam penilaian PROPER di Kementerian Lingkungan Hidup, yang berdampak pada laporan keberlanjutan mereka.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan rencana percepatan konversi motor konvensional ke motor listrik sebagai bagian dari implementasi energi bersih.

Rencana ini mencakup pembangunan PLTS 100 Gigawatt dan konversi 120 juta motor.

"Semacam begitu (subsidi), tapi nanti kita cari formulasi yang baik," kata Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, Kamis (5/3).

Pemerintah sebelumnya memberikan subsidi konversi untuk 200 ribu unit senilai Rp7-10 juta per unit, yang berakhir pada 2024 dan belum dilanjutkan.

Bahlil belum bisa membeberkan target tahap pertama karena masih dalam perhitungan.

"Tapi sekarang kan sudah mulai ada teknologi yang lebih murah, jadi mungkin sekitar Rp5-6 juta, jadi ke sini semakin murah.

>>> Telkom Rayakan 61 Tahun dengan Semangat Transformasi Digital Nasional

Dan itu akan diupayakan untuk pemerintah bisa hadir bersama-sama dalam mengurangi beban mereka dalam konversi," pungkas Bahlil.