Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak NATO untuk mengambil keputusan tegas dalam KTT mendatang di Ankara.

Seruan ini muncul setelah serangan rudal dan drone Rusia pada Senin, 6 Juli 2026, menewaskan 11 orang di Kyiv.

>>> Ikan Buntal Beracun Serbu Mediterania, Warga Was-was

Serangan besar-besaran itu juga melukai sekitar 60 orang lainnya. Rusia meluncurkan 68 rudal dan lebih dari 350 drone yang langsung menyasar ibu kota Ukraina.

Zelenskyy menyoroti defisit pertahanan kritis yang dihadapi negaranya. Ia menekankan bahwa Ukraina terus mengalami kesulitan akibat kekurangan peralatan militer yang diperlukan dari mitra internasional.

"Pasokan rudal pencegat yang tidak mencukupi," ujar Zelenskyy.

Pemimpin Ukraina itu menambahkan bahwa sekutu global memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menghentikan serangan yang sedang berlangsung.

Ia menegaskan bahwa peralatan pertahanan yang ditimbun dapat digunakan untuk melindungi warga sipil dari bombardir udara lebih lanjut.

>>> Xbox Game Pass Juli 2026 Tambah 6 Game Baru, Termasuk Call of Duty Black Ops 7 dan Halo Day One

"Selama rudal Patriot masih berada di gudang sekutu, Rusia hanya terdorong untuk terus menghancurkan bangunan tempat tinggal," kata Zelenskyy.

"Amerika Serikat dan Eropa memiliki cukup kekuatan untuk menghentikan teror ini," tambahnya. Serangan udara ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangan mematikan lainnya di Kyiv.

Insiden ini terjadi tepat sebelum KTT NATO, di mana para pemimpin internasional dijadwalkan berkumpul untuk membahas konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.

Sementara itu, pejabat di Moskow memberikan narasi berbeda mengenai target operasi malam itu.

>>> Bank Mandiri Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026

Otoritas Rusia mengklaim bahwa serangan besar-besaran itu ditujukan semata-mata untuk menghancurkan infrastruktur militer dan energi. Klaim ini bertentangan dengan bukti kerusakan parah pada blok apartemen sipil.