Riset dari University College London (UCL) dan Loughborough University mengungkapkan bahwa aplikasi pelacak kebugaran dan kalori dapat memicu perasaan malu pada penggunanya ketika gagal mencapai target yang ditetapkan.

Para peneliti menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis puluhan ribu unggahan media sosial di platform X.

>>> 10 Daerah Gelar Pemutihan Denda Pajak Kendaraan 2026, Cek Syaratnya

Studi tersebut mengidentifikasi 58.881 unggahan yang membahas lima aplikasi kebugaran paling menguntungkan secara komersial, yaitu MyFitnessPal, Strava, WW, Workouts by Muscle Booster, Fitness Coach & Diet, dan FitCoach.

Dari jumlah itu, unggahan kemudian disaring untuk melihat mana yang mengandung sentimen negatif. Hasilnya, sebanyak 13.799 unggahan menunjukkan pengalaman negatif pengguna terhadap aplikasi tersebut.

Peneliti menemukan bahwa pengguna merasa malu ketika mencatat konsumsi makanan tidak sehat, kesal akibat notifikasi yang dikirim aplikasi, serta kecewa saat tidak mampu memenuhi target yang ditetapkan.

Studi ini juga menyoroti kekhawatiran terkait target yang dihasilkan algoritme berdasarkan tujuan penurunan berat badan pengguna.

"Aplikasi-aplikasi ini mengandalkan algoritme yang tidak mencerminkan fleksibilitas dan kompleksitas kehidupan nyata, atau mempertimbangkan keadaan dan perbedaan individu," tulis para peneliti dalam studi yang dirilis di British Journal of Health Psychology pada Oktober 2025.

Peneliti mencontohkan salah satu unggahan pengguna yang menuliskan bahwa untuk mencapai berat badan target, ia perlu mengonsumsi kalori negatif 700 per hari, sebuah target yang secara matematis maupun fisiologis tidak masuk akal.

Dalam beberapa kasus, pengalaman semacam itu berujung pada demotivasi, dengan pengguna tampak menyerah pada tujuan kebugaran mereka.

Dorongan untuk Pendekatan yang Lebih Holistik

Atas temuan ini, peneliti mendorong aplikasi kebugaran untuk beralih dari pendekatan penghitungan kalori dan regimen olahraga yang kaku menuju pendekatan yang lebih holistik.