Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya tengah mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik di kawasan pesisir mangrove.

Teknologi ini menyasar sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis dan sulit didaur ulang.

>>> Spesifikasi Hyundai Ioniq 3 yang Bakal Muncul di GIIAS 2026

Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji menjelaskan bahwa sampah plastik di mangrove tidak hanya berasal dari sungai, tetapi juga terbawa arus laut saat pasang.

Meskipun sudah ada screen penyaring sampah di saluran Kebon Agung, plastik masih menumpuk karena tersangkut di akar mangrove.

“Ternyata ketika pasang, justru laut membawa sampah masuk ke situ (mangrove), nyantol ke akar-akar napas mangrove,” ujar Agus Imam, Senin (6/7/2026).

BRIDA menggandeng perguruan tinggi, pelajar, dan masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik yang tidak bernilai jual.

“Kalau botol plastik masih ada harganya. Untuk sampah kresek yang rusak itu tidak ada nilainya, tetapi banyak mengambang dan nyantol di mangrove.

Nah, yang non-valuable itu yang ingin kita kumpulkan,” katanya.

Sampah plastik tersebut akan diolah dengan pirolisis menjadi minyak bakar yang bisa dimanfaatkan nelayan.

“Kalau nelayan saat tidak mencari ikan, bisa mencari sampah plastik di mangrove, nanti diberikan kepada kami untuk diproses.

>>> Link Live Streaming Meksiko vs Inggris di 16 Besar Piala Dunia 2026

Hasilnya berupa minyak bakar bisa kami berikan lagi untuk bahan bakar motor tempel mereka,” tuturnya.

Agus mengakui pengembangan alat pirolisis masih terkendala pendanaan. “Sudah mau kita selesaikan, masih cari untuk pendanaan,” katanya.

Sekretaris BRIDA Kota Surabaya Mamik Suparmi menambahkan, pirolisis difokuskan pada sampah plastik yang sulit didaur ulang dan tidak bernilai ekonomi.