Eropa saat ini dilanda gelombang panas terparah dalam sejarah. Para ilmuwan menyebut fenomena ini kemungkinan besar dipicu oleh krisis iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil.

Hampir separuh dari 850 kota besar di Eropa menghadapi tingkat stres panas tertinggi sepanjang sejarah.

>>> Purbaya Buka Suara Soal Insentif EV Kembali Ditunda ke Agustus

Tingginya kelembapan udara membuat keringat kurang efektif mendinginkan tubuh, sehingga gelombang panas menjadi lebih berbahaya bagi kesehatan.

Analisis dari konsorsium World Weather Attribution (WWA) menunjukkan cuaca ekstrem memburuk seiring polusi karbon di atmosfer.

Sebagai perbandingan, jika gelombang panas seperti sekarang terjadi pada 2003, suhunya akan 2 derajat Celsius lebih rendah.

Dibandingkan dengan gelombang panas tahun 1976, suhu saat itu masih 3,5 derajat Celsius lebih sejuk.

Suhu malam hari yang menyengat kini berisiko 100 kali lebih mungkin terjadi dibanding 2003.

Inggris mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni, yakni 36,7 derajat Celsius di Somerset pada Kamis (25/6).

Sebagian besar wilayah Eropa Barat melaporkan lonjakan kasus darurat medis, bahkan beberapa berujung kematian.

Peringatan Ilmuwan

Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London yang tergabung dalam WWA, mengatakan ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda Eropa.

Menurutnya, dalam 50 tahun terakhir, peluang terjadinya gelombang panas seperti ini melonjak drastis seiring pemanasan Bumi sebesar 1,1 derajat Celsius.

>>> Pelatih Jepang Rombak Skenario Adu Penalti Lawan Brasil di Piala Dunia

Para ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) untuk mengukur dampak kelembapan terhadap kemampuan tubuh mendinginkan diri.

Mereka memastikan bahwa krisis iklim adalah dalang utama di balik panas ekstrem ini.