Dokter spesialis saraf mengungkapkan bahwa kebiasaan mendengkur saat tidur bukan sekadar gangguan, melainkan bisa menjadi tanda kondisi serius yang meningkatkan risiko stroke dan demensia.

Kepala Neurologi, Epileptologi, dan Sleep Medicine di Manipal Hospital Old Airport Road, Bengaluru, India, Dr. Pramod Krishnan, mengatakan bahwa mendengkur dapat menjadi gejala obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif.

>>> Cristiano Ronaldo Akui Piala Dunia 2026 Jadi Turnamen Terakhirnya

"Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa mendengkur bukanlah hal yang bisa dianggap sepele.

Kondisi ini dapat menjadi tanda gangguan tidur serius yang disebut obstructive sleep apnea," kata Krishnan dikutip dari Hindustan Times, Senin (5/7/2026).

Gejala dan Risiko OSA

OSA adalah gangguan tidur yang menyebabkan saluran napas bagian atas tersumbat saat tidur, sehingga napas berulang kali berhenti dan kembali berlangsung sepanjang malam.

Selain mendengkur keras, OSA juga ditandai dengan tidur yang tidak menyegarkan, mengantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala saat bangun, serta sulit berkonsentrasi.

Krishnan menjelaskan bahwa mendengkur tanpa gejala lain umumnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, jika muncul bersamaan dengan keluhan tersebut, pemeriksaan ke dokter sangat dianjurkan.

Pada penderita OSA, terjadi penurunan kadar oksigen dalam darah secara berulang akibat sumbatan saluran napas saat tidur. Kondisi ini membuat tidur terfragmentasi dan kualitas tidur terganggu.

Kurangnya kualitas tidur yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan otak seperti stroke dan demensia.

>>> Apakah Gunung Anak Krakatau Boleh Dikunjungi? Ini Jawabannya

Penurunan oksigen berulang juga memicu peradangan, stres oksidatif, hingga kerusakan sel saraf, terutama di bagian otak yang berperan dalam memori dan fungsi kognitif.