Stroke masih menjadi momok kesehatan di Indonesia.

Setiap tahun, lebih dari 357 ribu jiwa meninggal akibat penyakit ini, menjadikannya penyebab kematian tertinggi di tanah air.

in1

>>> OpenAI Perluas Inisiatif Daybreak dengan Codex Security, GPT-5.5-Cyber, dan Patch the Planet

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Indonesia berada di urutan ke-11 kasus kematian stroke global.

Tingginya angka kematian tidak hanya dipicu faktor risiko, tetapi juga keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Beberapa jam pertama setelah serangan stroke sangat krusial. Tindakan cepat dokter dapat menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerusakan otak.

Setelah fase akut, pasien biasanya menjalani fisioterapi dan konsumsi obat-obatan. Namun, tidak sedikit yang mengalami stagnasi pemulihan, di mana kemampuan motorik atau bicara tetap terbatas.

Kondisi ini terjadi karena sel otak sulit memperbaiki diri secara alami setelah mengalami kerusakan akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.

Pendekatan konvensional selama ini lebih fokus mencegah stroke berulang, seperti mengontrol tekanan darah dan mengencerkan darah. Sayangnya, belum ada obat yang bisa menghidupkan kembali jaringan otak yang mati.

Terapi Regeneratif sebagai Solusi

Inovasi terapi regeneratif atau stem cell membawa harapan baru.

>>> Realme P4x Varian 4G Meluncur dengan Baterai 8.000 mAh

dr. Febby Astari, IFMCP, dokter functional medicine di Seraphim Medical Center Gading Serpong, menjelaskan prinsip dasar terapi ini adalah mendukung kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki dan meregenerasi diri.

Terapi ini dirancang untuk memperbaiki atau menggantikan sel, jaringan, atau organ yang rusak agar berfungsi kembali.

"Dalam dunia kesehatan dan kecantikan ke depannya, terapi ini fokus tidak hanya memperbaiki gejala tapi mengembalikan fungsi tubuh," ungkapnya.

Melalui pemanfaatan sel punca atau terapi eksosom, kedokteran modern melatih sel yang tersisa dan memperbaiki lingkungan mikro di otak yang rusak.

Material biologis aktif yang disuntikkan melepaskan zat kimia khusus yang memicu angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak.

Terapi ini juga merangsang plastisitas otak, yaitu kemampuan sel saraf membentuk koneksi baru, serta menekan peradangan kronis yang menghambat pemulihan pasca-stroke.

Keunggulan terapi regeneratif antara lain minim risiko penolakan karena menggunakan material biologis dari tubuh pasien sendiri.

>>> Redmi 17C Resmi Meluncur, Bawa Kembali Konfigurasi 4/64GB

Prosedurnya biasanya hanya berupa suntikan lokal, tanpa sayatan besar atau rawat inap lama, sehingga waktu pemulihan pun singkat.