Video kucing kerap membanjiri media sosial dengan jutaan penonton. Tingkah lucu dan ekspresi datar mereka membuat banyak orang sulit berpaling.

Di Indonesia, kucing merupakan hewan peliharaan favorit dengan persentase 47 persen berdasarkan survei Rakuten Insight melalui National Geographic.

>>> Dukun Ghana Ramal Cape Verde Singkirkan Argentina, Messi Menangis

Euromonitor memperkirakan ada sekitar 4,8 juta ekor kucing yang dipelihara di Tanah Air.

Para ilmuwan dari berbagai bidang telah lama meneliti hubungan emosional antara manusia dan kucing. Berikut beberapa teori yang menjelaskan fenomena tersebut.

Ikatan yang Terjalin Sejak Ribuan Tahun Lalu

Analisis DNA menunjukkan nenek moyang kucing domestik berasal dari kucing liar Afrika (Felis silvestris lybica) yang hidup di kawasan Hilal Subur, meliputi Mesopotamia kuno, Mesir, Levant, hingga Persia.

Hubungan manusia dengan kucing diperkirakan dimulai sekitar 9.500 tahun lalu. Bukti arkeologis tertua ditemukan di Pulau Siprus, di mana seekor kucing dikuburkan bersama manusia.

Awalnya, kucing tidak sengaja dipelihara sebagai teman. Kehadiran mereka membantu masyarakat agraris karena memangsa hewan pengerat di sekitar tempat penyimpanan biji-bijian.

Eva-Maria Geigl, Direktur Penelitian di CNRS Prancis, menjelaskan bahwa kucing mendekati permukiman manusia karena melimpahnya sumber makanan.

"Mereka beradaptasi dengan lingkungan manusia karena hal itu menguntungkan secara evolusi," ujarnya dikutip dari Medical News Today.

Kucing Membuat Manusia Merasa 'Spesial'

Berbeda dengan anjing yang ramah kepada siapa saja, kucing lebih selektif dalam menunjukkan kasih sayang. Sifat ini justru membuat manusia semakin terpikat.

Patricia Pendry, peneliti dari Washington State University, menemukan bahwa hubungan emosional manusia dan kucing sering kali sangat kuat, terutama pada orang dengan tingkat kelekatan emosional tinggi.