Penurunan produksi gas pipa domestik di wilayah barat Indonesia mulai menekan pasokan bagi sektor industri.

Akibatnya, sebagian kebutuhan industri beralih menggunakan gas hasil regasifikasi LNG yang memiliki struktur biaya lebih tinggi.

>>> Putin Tegaskan Tekad Rebut Empat Wilayah Ukraina, Tolak Usulan Gencatan Senjata

Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan pergeseran sumber pasokan menjadi salah satu faktor yang mendorong harga gas industri meningkat hingga menembus di atas US$20 per MMBtu.

"Lonjakan harga gas industri hingga di atas USD20/MMBtu merupakan konsekuensi langsung dari penurunan produksi gas pipa domestik di wilayah barat Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Sumatra.

Pemenuhan pasokan gas terpaksa dialihkan menggunakan regasifikasi LNG yang dikirim dari wilayah timur, seperti Papua, Sulawesi, dan Kalimantan, yang secara struktural membawa beban biaya logistik lebih tinggi," ujar Pri Agung kepada Warta Ekonomi, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan kombinasi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang agar kenaikan biaya gas tidak semakin membebani industri, khususnya sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

Usulan Subsidi Silang Fiskal

Dalam jangka pendek, pemerintah dapat mempertimbangkan dukungan fiskal untuk membantu mengurangi selisih harga gas yang harus ditanggung industri.

Salah satu opsi yang diajukan adalah pemanfaatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor hulu migas melalui skema subsidi silang fiskal.

"Pemberlakuan subsidi silang fiskal: menambal selisih harga gas LNG (USD20+) ke batas aman daya tahan industri (USD9–10) menggunakan alokasi dana PNBP hulu migas, khusus untuk industri padat karya yang berkomitmen tidak melakukan PHK.

Kebijakan ini dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan negara dan keseimbangan harga pasar gas global dan regional," katanya.