Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.851 per dolar AS pada perdagangan Senin (29/6).

Mata uang Garuda menguat 71 poin atau 0,40 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

>>> Daftar Harga Tiket Konser Guns N' Roses di Jakarta, Termurah Rp1,05 Juta Saat Presale

Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga menguat terhadap dolar AS.

Yuan China terapresiasi 0,12 persen, peso Filipina naik 0,22 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,56 persen.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih berada di zona merah.

Yen Jepang melemah 0,05 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,53 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,01 persen.

Sementara itu, mata uang utama negara maju bergerak bervariasi.

>>> Model AI Claude Mythos 5 Kembali Bisa Diakses Setelah Diblokir AS

Euro Eropa menguat 0,17 persen, poundsterling Inggris naik 0,09 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,04 persen, serta franc Swiss menguat 0,11 persen.

Sebaliknya, dolar Australia terkoreksi 0,01 persen.

Sentimen Positif dari AS dan Iran

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah terjadi seiring membaiknya sentimen pasar.

Hal ini setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan menahan diri untuk sementara waktu serta melanjutkan pembicaraan sesuai rencana.

"Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia umumnya menguat terhadap dolar AS setelah laporan bahwa AS dan Iran akan 'menahan diri untuk sekarang' dan pembicaraan masih berjalan sesuai rencana," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.

>>> Pelatih Mundur, Orang Titipan Jadi Penyebab Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026

com, Senin (29/6).