Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat berangkat dari kejujuran. Indonesia masih menghadapi persoalan jutaan anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan.

Pernyataan itu disampaikan Gus Ipul saat menerima audiensi sejumlah kepala daerah di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Senin (29/6).

>>> Cuplikan Cyberpunk: Edgerunners Season 2 Diduga Bocorkan Cameo Karakter Cyberpunk 2077

Hadir Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri, Bupati Solok Selatan Khairunas, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, dan Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal.

"Satu hal yang penting dari Sekolah Rakyat ini dimulai dari kejujuran, dimana kita harus jujur bapak ibu sekalian, banyak anak-anak usia sekolah yang tidak sekolah," ujar Gus Ipul didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

Menurut Gus Ipul, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat lebih dari empat juta Anak Tidak Sekolah (ATS) di seluruh Indonesia.

Kelompok tersebut mencakup anak yang belum pernah sekolah, putus sekolah, maupun yang berisiko putus sekolah.

"Namanya ATS atau Anak Tidak Sekolah, empat juta lebih di datanya BPS seluruh Indonesia, mereka belum sekolah, tidak sekolah, putus sekolah, dan berpotensi putus sekolah," kata Gus Ipul.

Gus Ipul menjelaskan bahwa anak tidak sekolah tersebut mungkin berada di sekitar kita namun keberadaannya tidak disadari. Mereka belum terbawa dalam proses pembangunan.

"Banyak anak-anak di Sekolah Rakyat yang merupakan bagian dari ATS ini. Contoh, gak usah jauh-jauh di Papua, gak usah jauh-jauh di Solok Selatan.

Di Jakarta itu ada namanya Al-Jabbar, 15 kilometer kira-kira dari Istana Negara, dia usia 15 tahun, tetapi tidak pernah sekolah," ujarnya.

Anak-anak tersebut oleh Presiden Prabowo Subianto disebut the invisible people. Mereka adalah keluarga yang penderitaannya tidak nampak dan mendapatkan perhatian khusus melalui hadirnya Sekolah Rakyat.