Pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang masif di Amerika Serikat kini menjadi sumber inflasi baru.

Fenomena ini disebut sebagai "gelombang ketiga inflasi" setelah perang tarif dan konflik di Iran.

>>> Jungkook BTS Cetak Sejarah, Lagu Seven Tembus 3 Miliar Stream di Spotify

Menurut laporan Wall Street Journal, lonjakan permintaan untuk pusat data AI mendorong kenaikan harga komponen elektronik.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan harga grosir komponen elektronik naik 27 persen dalam setahun terakhir.

Dampaknya sudah terasa di pasar konsumen.

Apple baru saja menaikkan harga sebagian besar produknya hingga ratusan dolar, mencerminkan tekanan biaya akibat kelangkaan chip yang dipicu AI.

>>> SELAMAT! Kalista Iskandar Finalis Puteri Indonesia 2020 Resmi Menikah dengan Timothy Daniel pada Minggu, 28 Juni 2026

Analis Peringatkan Dampak Jangka Panjang

Para analis kini mencoba memperkirakan seberapa jauh efek ini akan merembet ke sektor lain. Ekonom UBS memperingatkan bahwa gelombang pembangunan pusat data baru masih berada di tahap awal.

Para pendukung AI berargumen bahwa teknologi ini pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan menekan inflasi. Namun, kenyataan saat ini justru sebaliknya: konsumen harus menanggung beban kenaikan harga.

Berbeda dengan tarif atau konflik geopolitik, guncangan permintaan akibat AI diperkirakan akan berlangsung selama bertahun-tahun.

>>> Boyband ARrC Resmi Bubar, Hanya 2 Tahun Setelah Debut

Perusahaan telah menganggarkan ratusan miliar dolar untuk pembangunan pusat data, dan konstruksi baru dimulai.