Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (29/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.879 per dolar AS, menguat 43 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

>>> Safari Politik Jokowi Dinilai Upaya Pengaruhi Sidang Ijazah Palsu

Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang masih melemah terhadap dolar AS.

Pelaku pasar masih mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Pergerakan Mata Uang Asia

Selain rupiah, ringgit Malaysia juga mencatat penguatan sebesar 0,40 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, peso Filipina menguat tipis sebesar 0,06 persen.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan setelah turun 0,49 persen terhadap dolar AS.

>>> Jennifer Holland Puji Superman: Man of Tomorrow, Sebut Mungkin Film Terbaik James Gunn

Pelemahan juga dialami rupee India yang terkoreksi 0,27 persen.

Adapun baht Thailand melemah 0,12 persen, diikuti dolar Taiwan yang turun 0,07 persen.

Sementara itu, dolar Singapura dan yuan China masing-masing terkoreksi 0,06 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Pergerakan yang beragam di kawasan Asia menunjukkan pasar masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan perkembangan ekonomi global.

>>> Insinyur Valve: Steam Machine Lebih Murah Lebih Baik, Tapi Harga Turun Sulit dalam Waktu Dekat

Meski demikian, penguatan rupiah pada awal pekan ini memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik setelah mata uang Garuda sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.