Harga gas industri bukan satu-satunya penentu pelemahan daya saing serta potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Perlu kajian menyeluruh agar solusi yang diberikan komprehensif dan tepat sasaran.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, menyatakan kekhawatiran industri yang intensif menggunakan energi perlu mendapat perhatian. Kenaikan harga energi global akibat geopolitik tidak terhindarkan.

>>> Ekspor Camilan Asal Bandung Tembus 13 Negara, Australia dan Jepang Dominasi Pasar

Namun, Said menegaskan harga energi bukan satu-satunya tantangan biaya produksi. "Faktor lainnya adalah melemahnya daya beli masyarakat.

Akibatnya pembelian barang menurun, produksi ikut turun, dan efisiensi berujung PHK," ungkapnya.

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar juga meningkatkan ongkos produksi, terutama bagi perusahaan yang bahan bakunya impor. "Mereka membeli bahan baku dengan dolar, hasil produksi dijual dalam rupiah.

Ini sangat merugikan," imbuhnya.

Said tengah mencari solusi bersama pemangku kepentingan lain, khususnya untuk perusahaan granit, keramik, dan tekstil yang membutuhkan kebijakan khusus.

Terkait isu 55 ribu tenaga kerja akan terkena PHK, Said membantah. "Tidak benar.

Jika ada PHK di perusahaan granit, jumlahnya ratusan orang akibat dampak perang dan kenaikan BBM," tegasnya.

Mewakili buruh dan pemerintah, Said berkomitmen melakukan mitigasi. "Kalau bisa PHK tidak terjadi, itu yang kami perjuangkan.

Jika terjadi, hak pekerja harus dibayarkan," ujarnya.

Faktor Lain Penentu Daya Saing

Kajian ReforMiner Institute memaparkan daya saing industri nasional tidak ditentukan oleh harga gas semata.

Banyak faktor lain seperti strategi industri, permintaan pasar, ketersediaan bahan baku, produktivitas, efisiensi, nilai tukar, teknologi, logistik, dan akses pasar.

>>> Innovasia Bawa Solusi Pembayaran WhatsApp ke B2B Tech Asia 2026