Edukator finansial Raymond Chin menilai rencana IPO PT RANS Entertainment Indonesia Tbk harus dilihat dari fundamental bisnis dan kinerja keuangan, bukan sekadar popularitas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Menurut Raymond, proses IPO membuka kesempatan bagi publik untuk menilai kondisi bisnis secara lebih objektif, termasuk valuasi, sumber pendapatan, risiko usaha, hingga penggunaan dana.

in1

>>> IHSG Anjlok 4,55% dalam Sepekan, Asing Net Sell Rp3,43 Triliun

"Kalau IPO, kita harus publikin dan transparan 100%," kata Raymond dalam video yang diunggah melalui kanal resminya, dikutip Sabtu (27/6/2026).

Berdasarkan prospektus ringkas, RANS menawarkan hingga 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, dengan kisaran harga Rp135-Rp170 per saham.

Nilai perusahaan diperkirakan mencapai sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun, sedangkan potensi dana yang dihimpun sekitar Rp429,25 miliar.

Raymond menilai investor perlu memahami bahwa RANS bukan hanya mengelola kanal media sosial Raffi Ahmad.

Perseroan memiliki empat lini usaha utama: produksi dan distribusi konten media, pengelolaan intellectual property, penyelenggaraan kegiatan komersial dan hiburan, serta investasi strategis.

Kinerja Keuangan Menurun

Meski demikian, perhatian investor seharusnya lebih diarahkan pada tren kinerja keuangan perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan dalam prospektus, pendapatan RANS turun selama tiga tahun berturut-turut, dari Rp437,81 miliar pada 2023 menjadi Rp410,50 miliar pada 2024 dan kembali turun menjadi Rp353,38 miliar pada 2025.

Laba bersih juga menyusut 41,6% menjadi Rp56,69 miliar pada 2025 dari Rp97,07 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan terbesar terjadi pada segmen duta merek dan talent management yang turun lebih dari 51%, dari sekitar Rp107,18 miliar menjadi Rp51,93 miliar.