Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Dinilai Rapuh, INDEF Wanti-wanti Bisa Melambat pada Kuartal II
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada triwulan I 2026 belum mencerminkan penguatan fundamental ekonomi.
Lembaga tersebut memperingatkan laju pertumbuhan berpotensi melambat pada kuartal berikutnya karena ditopang faktor sementara, terutama lonjakan belanja pemerintah dan konsumsi musiman Idulfitri.
>>> Indomaret Kembali Hadirkan Produk Pokémon, Bidik Pasar Merchandise
Direktur Program INDEF Eisha M.
Rachbini mengatakan sumber utama pertumbuhan berasal dari peningkatan pengeluaran pemerintah yang melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Pengeluaran pemerintah ini ada low based effect. Sumber pertumbuhan pemerintah di kuartal I 2025 hanya 0,04, sementara di 2026 mencapai 1,26.
Ini kontras sekali," ujar Eisha dalam diskusi INDEF, Sabtu (27/6/2026).
Selain belanja pemerintah, konsumsi masyarakat selama Idulfitri 2026 turut menopang pertumbuhan. Namun, faktor musiman ini sulit menjadi sumber pertumbuhan pada kuartal-kuartal berikutnya.
"Di kuartal selanjutnya, agak sulit pertumbuhan terjadi kembali. Kita tidak bisa menemukan efek seperti ini direplikasi untuk kuartal berikutnya," katanya.
INDEF juga menilai ketahanan ekonomi domestik masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, ruang fiskal yang semakin sempit, serta melemahnya daya saing sektor riil.
Eisha menyoroti peningkatan defisit APBN sebagai indikasi tingginya ekspansi fiskal.
>>> Taylor Swift dan Travis Kelce Gelar Makan Malam Latihan Kecil Sebelum Pernikahan 1.000 Tamu
Hingga Mei 2026, defisit anggaran mencapai sekitar 0,7% terhadap PDB, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi Mei 2025 yang sebesar 0,09% PDB.
"Di Mei 2026 defisit sudah mencapai 0,7 persen PDB, sementara tahun lalu hanya 0,09 persen. Ini mencerminkan pengeluaran pemerintah sangat besar," jelasnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 akan kembali melambat ke kisaran 5% secara tahunan.
Update Terbaru
Diskon Headphone Terbaik yang Jarang Dibahas: Sennheiser Accentum Rp1,4 Jutaan
Sabtu / 27-06-2026, 23:22 WIB
3 Pengaturan Android Auto yang Jarang Diketahui untuk Hindari Masalah Rute
Sabtu / 27-06-2026, 23:22 WIB
Bandera Nazi dan Benda Mencurigakan Ditemukan di Dekat Pusat Islam San Diego
Sabtu / 27-06-2026, 23:21 WIB
Polisi San Diego Tujuh Kali Lebih Sering Gunakan Kekerasan terhadap Warga Kulit Hitam
Sabtu / 27-06-2026, 23:21 WIB
Red Magic Gaming Tablet 5 Pro Dikonfirmasi Punya Dual USB-C dan Baterai 8300mAh
Sabtu / 27-06-2026, 23:17 WIB
Blok Plastik Daur Ulang Bisa Rakit Rumah Kecil dalam Lima Hari
Sabtu / 27-06-2026, 23:17 WIB
Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara dengan Pertumbuhan Orang Super Kaya Tercepat
Sabtu / 27-06-2026, 23:14 WIB
Strava hingga Kling AI Resmi Jadi Pemungut PPN, Pajak Digital Capai Rp52,85 Triliun
Sabtu / 27-06-2026, 23:12 WIB
Dompet Dhuafa Dorong Pendidikan Anak Yatim Lewat Pendampingan Berkelanjutan
Sabtu / 27-06-2026, 23:12 WIB
Trump Ancam Tarif 100% bagi Negara yang Terapkan Pajak Digital untuk Raksasa Teknologi AS
Sabtu / 27-06-2026, 23:12 WIB
The Bear Beri Penghormatan untuk Rob Reiner dengan Kutipan Film Ikonik
Sabtu / 27-06-2026, 23:07 WIB
Baca Online Killer Peter Chapter 140 Bahasa Indonesia Kapan Rilis
Sabtu / 27-06-2026, 23:05 WIB
AS Hancurkan Gudang Rudal dan Drone Iran, Video Dirilis
Sabtu / 27-06-2026, 23:02 WIB
Trump Hujat John Bolton Usai Mantan Penasihat Keamanan Nasional Akui Bersalah
Sabtu / 27-06-2026, 23:02 WIB






