Setiap pagi, jutaan orang bergerak menuju Jakarta dari berbagai penjuru seperti Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, hingga sudut-sudut ibu kota.

Mereka berangkat dengan tujuan yang sama: bekerja, berbisnis, belajar, atau menjalankan aktivitas ekonomi yang membuat roda kota terus berputar.

in1

>>> Chika Yenalovy Anaknya Siapa? Inilah Biodata Calon Istri Rizky Irmansyah yang Ikut Serahkan Undangan Pernikahan kepada Jokowi saat Kunjungan ke Solo

Namun sebelum produktivitas tercipta, ada satu tantangan yang harus dihadapi setiap hari: kemacetan.

Bagi masyarakat perkotaan, kemacetan sering dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan, padahal di baliknya terdapat biaya ekonomi yang sangat besar.

Ekonom dan praktisi kebijakan publik Wijayanto Samirin memperkirakan kerugian akibat kemacetan di kawasan Jabodetabek telah mencapai lebih dari Rp100 triliun per tahun.

Kerugian itu tidak hanya berasal dari bahan bakar yang terbuang, tetapi juga dari waktu produktif yang hilang, meningkatnya biaya operasional kendaraan, hingga penurunan produktivitas masyarakat.

"Kalau kita berbicara Jabodetabek dan mencoba mengkuantifikasi seluruh kerugian akibat kemacetan, nilainya memang mendekati Rp100 triliun per tahun," ujar Wijayanto.

Angka tersebut menggambarkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar sebuah kota ketika mobilitas tidak berjalan efisien.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja, belajar, atau berkumpul bersama keluarga berubah menjadi jam-jam yang habis di jalan.

Waktu sebagai Komoditas Paling Mahal

Di kota-kota modern, waktu adalah aset ekonomi. Semakin cepat seseorang berpindah, semakin tinggi peluang produktivitas yang dihasilkan.

Wijayanto menyebut masyarakat Jabodetabek rata-rata menghabiskan dua hingga empat jam setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang bekerja.

Bayangkan jika sebagian waktu tersebut dapat dipangkas melalui sistem transportasi publik yang lebih efisien.