Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 mencapai 4,9 hingga 5,7 persen. Target ini dioptimalkan melalui penguatan sektor ekspor dan penajaman bauran kebijakan moneter.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa perkembangan situasi di Timur Tengah masih memerlukan kewaspadaan penuh. Eskalasi tersebut berpotensi menimbulkan efek rembetan terhadap stabilitas finansial internasional.

in1

>>> Kampung Perigi, Kampung Tua di Palembang yang Menjaga Tradisi Kopi dan Roti Ratusan Tahun

Konflik bersenjata sejak akhir Februari 2026 mengacaukan jalur logistik dan rantai perdagangan global. Disrupsi ini memicu lonjakan inflasi dunia ke kisaran 4,4 persen.

Perry Warjiyo menekankan pentingnya penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Hal ini diperlukan untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Di sisi lain, Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga kebijakan pada rentang 3,50 hingga 3,75 persen.

Ruang kenaikan suku bunga AS tetap terbuka jika ekspektasi inflasi di negara tersebut meningkat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga bertahan di posisi tinggi.

>>> BI Waspadai Dampak Guncangan Ekonomi Global yang Belum Reda

Per 17 Juni 2026, yield instrumen tenor 10 tahun mencatat 4,49 persen dan tenor 2 tahun di level 4,18 persen.

Melambungnya yield dipicu oleh pembengkakan defisit anggaran belanja AS. Kondisi ini mendorong investor memindahkan modal ke aset aman di negara maju ketimbang pasar negara berkembang.

Ketahanan Fondasi Ekonomi Domestik

Kendati digempur tekanan eksternal, BI menilai fundamental perekonomian domestik masih solid. Performa ini ditopang oleh tingginya volume permintaan di pasar dalam negeri.

Penyerapan anggaran belanja pemerintah bergerak cepat melalui realisasi agenda prioritas. Langkah ini mencakup pencairan gaji ke-13 ASN serta penyaluran bantuan sosial bagi keluarga penerima manfaat.

>>> Honda Luncurkan Mobil Listrik Murah Super-N di Inggris

Daya beli masyarakat tetap kokoh berkat indeks keyakinan konsumen yang terjaga di level optimistis. Dari sektor riil, investasi menunjukkan pemulihan dengan PMI yang tetap berada dalam zona ekspansi.