Transportasi publik menjadi pembuluh darah yang mengalirkan energi ekonomi ke berbagai titik kota. Bagi pelaku usaha kecil, arus penumpang yang konsisten menciptakan pasar yang lebih stabil.

Investasi dengan Efek Berantai

Selain mendorong aktivitas ekonomi lokal, investasi pada transportasi publik menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas.

in1

Wijayanto mengutip studi LPEM FEB UI yang menunjukkan bahwa setiap investasi Rp1 triliun pada Transjakarta mampu menghasilkan multiplier effect ekonomi hingga 3,5 kali lipat.

Artinya, manfaat ekonomi yang dihasilkan jauh melampaui nilai investasi awal.

Efek berantai muncul dari meningkatnya perdagangan, terbukanya lapangan kerja, bertambahnya mobilitas tenaga kerja, hingga meningkatnya nilai ekonomi kawasan.

Berbeda dengan pembangunan jalan yang sering kembali dipenuhi kendaraan, kapasitas transportasi publik dapat terus ditingkatkan melalui penambahan armada dan frekuensi.

Karena itu, banyak kota besar dunia menjadikan transportasi publik sebagai fondasi pembangunan ekonomi jangka panjang.

Kemajuan investasi transportasi publik juga terlihat di sejumlah daerah melalui program Buy The Service (BTS) dari Kementerian Perhubungan.

Program ini dirancang sebagai stimulus agar pemerintah daerah membangun dan mengoperasikan angkutan umum massal perkotaan.

Perlahan, sejumlah daerah mulai mandiri.

Kota seperti Makassar, Denpasar, dan Purwokerto kini tidak lagi bergantung pada dukungan operasional pusat karena layanan BTS sudah diambil alih pemerintah daerah.

Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, transportasi publik diharapkan berkembang menjadi infrastruktur ekonomi yang mendukung aktivitas masyarakat dan memperkuat daya saing daerah.

Bagi daerah lain, pengalaman ini menjadi gambaran bahwa pengembangan angkutan umum bukan hanya kebutuhan, tetapi juga peluang.

Lebih dari Sekadar Moda Transportasi

Dalam beberapa tahun terakhir, cara pandang terhadap transportasi publik mulai berubah. Jika sebelumnya dianggap hanya sebagai layanan mobilitas, kini semakin banyak pihak melihatnya sebagai instrumen pembangunan ekonomi.

Transportasi publik menghubungkan tenaga kerja dengan pusat pekerjaan, konsumen dengan pelaku usaha, serta kawasan permukiman dengan pusat pertumbuhan ekonomi.

>>> Kapolri Salurkan 6.000 Paket Bansos di HUT Bhayangkara ke-80

Pada akhirnya, setiap perjalanan yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien bukan hanya menguntungkan individu, tetapi juga menentukan bagaimana kota tumbuh, pelaku usaha berkembang, dan daya saing ekonomi kawasan meningkat.