DANA Indonesia mengungkap masih banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum memanfaatkan layanan pembayaran digital seperti QRIS.

Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu tantangan dalam mempercepat digitalisasi usaha kecil di Indonesia.

in1

>>> Elektrifikasi KRL Tanah Abang-Rangkasbitung Ditargetkan Rampung 2027

Director of Communications DANA Indonesia Olavina Harahap mengatakan temuan itu diperoleh dari peserta program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 yang diikuti lebih dari 6.800 UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas dari berbagai daerah.

"Bahkan peserta-peserta yang ikut program ini, yang kami minta punya QRIS supaya bisa jualan, belum semuanya memiliki.

Padahal itu salah satu bagian penting dari digitalisasi keuangan," ujar Olavina di sela Offline Mentoring Workshop SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 di Jakarta, Jumat (26/6).

Menurut dia, penggunaan layanan pembayaran digital menjadi kebutuhan bagi UMKM mengingat semakin banyak konsumen yang bertransaksi secara nontunai.

"Kalau mereka tidak punya layanan keuangan digital, bagaimana orang mau membeli? Sekarang orang sudah lebih senang menggunakan QRIS," katanya.

Selain penggunaan QRIS, DANA juga menilai masih banyak UMKM yang belum mengelola administrasi keuangan secara baik.

Banyak pelaku usaha masih mencampurkan keuangan pribadi dan usaha, bahkan belum memiliki pencatatan arus kas yang rapi.

Karena itu, perusahaan memasukkan pengelolaan keuangan digital sebagai salah satu materi utama dalam program SisBerdaya.

"Kami mengajarkan bagaimana mengatur keuangan secara digital untuk UMKM.

>>> Kisah Sheza Fazila Sabet Emas di Kejuaraan Pencak Silat Piala Presiden

Itu penting karena dari sana mereka bisa memiliki pencatatan yang lebih baik dan ke depan akan lebih mudah mengakses pembiayaan," ujar Olavina.

Ia menambahkan peserta juga didorong memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai bagian dari legalitas usaha serta memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran produk.