Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB menghentikan sementara operasi pengawalan kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (25/6).

Keputusan ini diambil setelah sebuah kapal kargo diserang saat berlayar di dekat Oman.

in1

>>> Misbakhun: Angka TKD 2027 Belum Final, Aspirasi Daerah Jadi Perhatian

Perusahaan pelayaran Taiwan, Evergreen Marine, melaporkan pada Jumat (26/6) bahwa kapalnya yang berbendera Singapura, Ever Lovely, terkena hantaman "benda tak dikenal" di dekat Oman.

Kapal tersebut berlayar melalui rute yang direkomendasikan oleh badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO.

Evergreen menyatakan Ever Lovely terkena hantaman di sisi kanan kapal (starboard). Pemeriksaan awal menemukan kerusakan pada jendela anjungan kapal.

"Seluruh awak, kapal, dan muatan dalam kondisi aman," kata perusahaan dalam keterbukaan informasi kepada bursa saham. "Kapal telah berhasil meninggalkan Selat Hormuz dengan selamat."

Seorang sumber keamanan mengatakan kapal tersebut kemungkinan menjadi sasaran serangan drone.

IMO sebelumnya membantu ratusan kapal dan ribuan pelaut yang terjebak di Selat Hormuz akibat perang AS-Iran yang pecah sejak 28 Februari.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, mengatakan organisasi itu memutuskan "menghentikan sementara implementasi operasi tersebut untuk memastikan kembali bahwa seluruh jaminan keselamatan yang diperlukan masih berlaku bagi kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami maupun seluruh kapal di kawasan."

IMO menegaskan kapal Ever Lovely yang menjadi sasaran serangan bukan bagian dari inisiatif evakuasinya.

>>> AVC Men's Cup: Timnas Voli Indonesia Hadapi Oman di Laga Penentuan

Program sukarela yang diluncurkan pada Selasa itu memungkinkan kapal beserta awaknya keluar dari Teluk melalui dua jalur, yakni perairan Iran atau perairan Oman, dengan pengawasan Amerika Serikat.

Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai keberlangsungan kesepakatan awal untuk mengakhiri perang Iran.