Penyakit perlemakan hati atau fatty liver tidak lagi hanya menyerang usia lanjut. Kini, kasusnya semakin banyak ditemukan pada orang dewasa berusia 30-an.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, mengungkapkan bahwa fatty liver atau metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) berkaitan dengan gangguan metabolisme tubuh.

in1

>>> METRO Department Store Hadirkan One Day Super Special di Jakarta Great Sale 2026

Penyakit ini sering disebut silent killer karena berkembang perlahan tanpa gejala jelas. Namun, dapat berujung pada kerusakan hati permanen.

"Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati," ujar Widya, dikutip dari laman IPB University, Jumat (26/6/2026).

Individu dengan obesitas, diabetes melitus, atau gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver.

Prevalensi Global dan Indonesia

Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan mencapai sekitar 30% dan terus meningkat.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa naik dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023.

Prevalensi obesitas sentral atau perut buncit pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 36,8%. Meningkatnya angka obesitas menjadi sinyal bertambahnya gangguan metabolik di masyarakat.

Widya menjelaskan, faktor risiko fatty liver meliputi obesitas sentral, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurang aktivitas fisik.

Namun, ia mengingatkan bahwa fatty liver tidak hanya menyerang orang yang kelebihan berat badan.

Orang dengan berat badan normal juga bisa mengalaminya jika memiliki perut buncit, resistensi insulin, diabetes, sering mengonsumsi makanan tinggi gula, atau jarang berolahraga.