Usia 30-an Rentan Fatty Liver, Waspada Silent Killer
Widya juga mengimbau masyarakat tidak mudah tergoda produk yang mengklaim mampu "membersihkan hati", seperti suplemen, obat herbal, atau produk detoks.
"Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup yang sehat.
Bukti ilmiah menunjukkan perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver," katanya.
>>> Vi Berikan Spotify Premium Gratis untuk Pelanggan Pascabayar
Lima Langkah Pencegahan
Untuk menekan risiko fatty liver, Widya membagikan lima langkah utama yang sejalan dengan rekomendasi WHO.
Pertama, menurunkan berat badan secara bertahap sekitar 5-10% dari berat badan awal.
Kedua, mengurangi konsumsi minuman manis seperti teh manis, kopi susu tinggi gula, boba, soda, sirup, dan minuman kemasan.
Ketiga, menerapkan pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, protein, serta membatasi makanan ultraproses, gorengan, dan camilan tinggi kalori.
Keempat, rutin berolahraga sedikitnya 150-300 menit per minggu atau sekitar 30 menit sehari selama lima hari, ditambah latihan beban dua kali seminggu.
Kelima, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk lingkar perut, indeks massa tubuh (IMT), gula darah, kolesterol, tekanan darah, hingga pemeriksaan fungsi hati dan USG bila diperlukan.
Widya menambahkan, pencegahan sebaiknya dimulai sejak usia anak.
Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, aktif bergerak, membatasi waktu layar, tidur cukup, serta mengurangi konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses.
Pada orang dewasa, ia menyarankan rutin memantau berat badan, lingkar perut, gula darah, dan tekanan darah, terutama bila memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, obesitas, atau penyakit jantung.
Memasuki usia di atas 40 tahun, deteksi dini perlu dilakukan lebih aktif karena risiko penyakit metabolik semakin meningkat.
Widya juga mengingatkan agar tidak menganggap enteng diagnosis "fatty liver ringan".
>>> itel Power 451: Fitur AI-ENC dan Pengisian Type-C di Ponsel Fitur
Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, sirosis, hingga kanker hati apabila tidak ditangani melalui perubahan gaya hidup yang konsisten.
Update Terbaru
Kedok Game Keluarga! Disney Timezone di Jakarta Ternyata Sarang Judi Beromzet Rp2,1 Miliar Sebulan
Jumat / 26-06-2026, 17:56 WIB
Analis Ungkap Alasan Jokowi Pilih Lampung untuk Safari Politik Bersama PSI
Jumat / 26-06-2026, 17:56 WIB
Bukan Diet Ketat yang Menyiksa, Ini Prinsip Dasar Intuitive Eating
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.922 per Dolar AS Jumat Sore
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Pakistan Tegaskan Tak Akan Akui Israel Sebelum Palestina Merdeka
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
BPS Jelaskan Alasan Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026 Lebih Rinci
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
IHSG Terkapar ke 5.896 Sore Ini, 562 Saham Terbakar
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Jadwal Siaran Langsung Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Mensesneg: Rencana Pabrik Komponen Otomotif Pindah ke Vietnam Ditunda
Jumat / 26-06-2026, 17:41 WIB
Hasil FP1 MotoGP Belanda: Bezzecchi Tercepat, Marquez Kecelakaan
Jumat / 26-06-2026, 17:41 WIB
Tiket Konser 3 Hari BIGBANG di Korea Sold Out Hitungan Menit
Jumat / 26-06-2026, 17:40 WIB
Kode Resep Membuat Karakter Street Fighter 6, Tiru Popeye hingga Kratos
Jumat / 26-06-2026, 17:36 WIB
Cara Cek BPNT 2026 Online via Website dan Aplikasi Resmi
Jumat / 26-06-2026, 17:35 WIB
Prosedur Pengecekan Bansos Kemensos: Cara Melihat Status Desil dan Penerima Bantuan
Jumat / 26-06-2026, 17:35 WIB






