Kebiasaan Generasi Z (Gen Z) menghabiskan waktu di kedai kopi kini menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Aktivitas seperti menyelesaikan tugas kuliah, Work From Cafe (WFC), hingga berkumpul bersama rekan sejawat hampir selalu ditemani segelas es kopi susu kekinian.

>>> Kemenkes Dorong Pelaku Usaha Kesehatan Ikuti Sensus Ekonomi 2026

Namun, di balik kesegaran minuman tersebut, terdapat dampak buruk yang mengintai kesehatan organ hati.

Konsumsi pemanis, susu murni (full cream), dan krimer secara berlebihan berisiko memicu atau memperburuk kondisi fatty liver.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD menjelaskan bahwa kandungan kopi itu sendiri sebenarnya tidak menimbulkan masalah.

Justru bahan-bahan tambahan di dalamnya yang perlu diwaspadai.

"Tapi yang (masalah) tambahannya ini. Entah krimernya, entah gulanya, entah jenis gulanya.

Kadang nggak pakai glukosa, pakainya pemanis-pemanis maple syrup, fruktosa, itu justru meningkatkan fatty liver," kata dr Dicky saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

>>> Samator Indo Gas Bagikan Dividen Rp35 Miliar ke Pemegang Saham

Ia memaparkan bahwa terdapat studi sekitar 25 tahun lalu yang memperlihatkan perbedaan dampak kebiasaan meminum kopi antara masyarakat di luar negeri dan di Indonesia.

"Kalau di luar negeri orang minum kopi risiko diabetesnya turun. Tapi kalau di Depok nggak, orang minum kopi diabetesnya naik," kata dr Dicky.

"Ternyata minum kopinya kopi manis, kopi sachet. Kalau saya billing itu mah air gula rasa kopi.

Makanya minum kopinya jangan salahin minum kopinya yang salahin adalah pemanisnya sama aditif lainnya," sambungnya.

Meskipun belakangan ini muncul tren pemesanan dengan kadar gula lebih sedikit atau less sugar, cita rasa minuman kopi yang disajikan secara umum terpantau masih sangat manis.

>>> Mehdi Taremi Soroti Ketegangan Pemeriksaan Piala Dunia 2026 di AS

"Definisi less sugar ini kan kita nggak tahu. Kadang less sugar manis banget loh less sugar-nya," tutur dr Dicky.