Komunitas penggemar musik atau fandom ternyata memiliki manfaat lebih dari sekadar tempat berkumpulnya penggemar artis.

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa fandom dapat menjadi ruang aman bagi Generasi Z (Gen Z) untuk memperoleh dukungan emosional, mengurangi rasa kesepian, dan menjaga kesehatan mental.

>>> Timnas Voli Putra Indonesia Kembali ke Final, Dua Turnamen Beruntun

Hong Kong Music Therapy Association (HKMTA) menyatakan musik dapat meningkatkan emosi positif karena memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi dan motivasi.

Musik juga diketahui membantu menurunkan kadar hormon stres kortisol, memperlambat detak jantung, serta menurunkan tekanan darah.

Salah satu kisah datang dari Jessica Sikora, perempuan asal New Jersey, Amerika Serikat, yang mengaku komunitas penggemar Jonas Brothers membantunya bertahan saat berjuang melawan depresi di masa remaja.

Saat berusia 13 tahun, Jessica mengalami depresi akibat tekanan keluarga dan kesulitan bersosialisasi. Ia mengaku beberapa kali melakukan self-harm dan mencoba bunuh diri sebelum berusia 17 tahun.

Dalam kondisi tersebut, musik menjadi pelarian, sementara komunitas penggemar Jonas Brothers memberinya dukungan emosional.

"Itu adalah komunitas yang menyelamatkan hidup saya.

Berbicara dengan sesama penggemar membuat saya tetap bertahan," kata Jessica, seperti diberitakan South China Morning Post, Sabtu (18/7).

Berangkat dari pengalaman pribadinya, Jessica mendirikan platform bernama Superbands, sebuah komunitas daring yang menghubungkan para penggemar musik sebagai bentuk dukungan sebaya.

Menurutnya, fandom dapat menjadi pelengkap layanan kesehatan mental profesional.

"Mereka (layanan kesehatan mental) fokus pada penanganan krisis dan aspek klinis. Namun, fandom juga penting bagi kesehatan mental.

>>> KPK Hadapi Praperadilan Kedua Ketum Kesthuri Tersangka Kuota Haji

Banyak anak muda mendengarkan musik setiap hari. Fandom memberi harapan, rasa memiliki, komunitas, dan identitas," ujarnya.